Lembaga Pendidikan Montessori Islam

Apa Itu Sibling Hand Me Down? Bunda Kenali Ini Akibatnya pada Anak 

sibling hand me down
June 4, 2025

Hayo Bunda, siapa nih yang masih suka memberikan pakaian atau barang bekas kakak kepada adik, atau yang sering disebut sibling hand me down? Praktik ini memang efisien dan ramah lingkungan.

Namun, pernahkah terlintas di benak Anda, bagaimana kebiasaan ini sebenarnya memengaruhi psikologi dan perkembangan anak yang menerima hand-me-down tersebut? 

Dampaknya mungkin tidak selalu terlihat secara langsung, tetapi bisa mempengaruhi rasa percaya diri dan identitas mereka.

Artikel ini hadir untuk membantu Bunda mengenali lebih dalam apa itu sibling hand-me-down dan apa saja akibat yang mungkin timbul pada anak yang menerima barang bekas kakaknya.

Kita akan membahas berbagai potensi dampak, mulai dari perasaan tidak berharga, kesulitan mengembangkan identitas diri, hingga perbandingan antar saudara. 

Dengan memahami hal ini, diharapkan Ayah dan Bunda dapat menerapkan strategi yang tepat agar praktik hand-me-down tetap berjalan, namun tanpa merugikan perkembangan emosional si kecil. Yuk, simak penjelasan selengkapnya!

Apa Itu Sibling Hand Me Down dan Dampaknya pada Anak

Nah, Bunda, sibling hand me down merupakan kebiasaan mewariskan barang dari kakak kepada adik dalam keluarga.

Meskipun terlihat praktis, kebiasaan ini jika diterapkan tanpa mempertimbangkan aspek emosional anak bisa memiliki dampak psikologis yang kurang baik. 

Bahkan menurut salah satu psikologi ternama asal Amerika Serikat Dr Shira Schuster ada dampak yang cukup signifikan. Bahkan sebaiknya anak kita masing-masing perlu mempunyai style.  

Dr. Shira Schuster, a licensed psychologist of Williamsburg Therapy Group, said schuster said, “Some adults who wore hand-me-down clothing as children might place more emphasis on how they dress as a way to show their individuality or as a way to feel like they ‘finally’ get to wear what they want; many people who wore hand-me-down clothing growing up probably don’t give it much thought as they get older.”1 

Berikut beberapa efek yang perlu diperhatikan oleh orang tua. 

1. Anak Merasa Kurang Dihargai

Efek sibling hand me down yang membuat anak yang selalu menerima barang bekas dari kakaknya bisa merasa kurang dihargai dan mulai mempertanyakan pentingnya dirinya dalam keluarga. Ia mungkin berpikir, “Mengapa aku tidak mendapatkan sesuatu yang baru seperti kakakku?” sehingga merasakan ketidakadilan.

Perasaan ini dapat berpengaruh pada rasa percaya dirinya, terutama saat menghadapi fase penting seperti memasuki preschool.

Anak bisa merasa kurang spesial dibandingkan saudara kandungnya, yang pada akhirnya mempengaruhi kepercayaan dirinya dalam lingkungan sosial.

2. Menimbulkan Rasa Iri dan Kecemburuan

Ketika seorang adik melihat bahwa kakaknya lebih sering mendapatkan barang baru, sementara dirinya hanya menerima barang bekas, hal ini dapat memunculkan kecemburuan dalam diam. Anak bisa merasa bahwa perlakuan orang tua terhadapnya tidak seimbang.

Jika perasaan ini tidak ditangani dengan baik, dapat muncul konflik saudara yang berkepanjangan. Anak yang merasa kurang diperhatikan bisa menyimpan perasaan tidak nyaman terhadap kakaknya dan orang tua, yang nantinya berpengaruh pada hubungan mereka di masa depan.

3. Menghambat Pembentukan Identitas Diri

Sibling hand me down juga membuat anak jadi kurang percaya diri. Padahal, setiap anak perlu merasa unik dan memiliki kesempatan untuk mengekspresikan dirinya. Jika ia terus-menerus memakai barang peninggalan kakak, seperti pakaian atau mainan, ia bisa merasa kurang memiliki kebebasan dalam menentukan pilihannya sendiri.

Terutama saat memasuki masa transisi seperti persiapan menuju preschool, anak membutuhkan kebebasan dalam mengekspresikan identitasnya. Jika ia hanya mendapatkan barang lama tanpa kesempatan memilih, ia mungkin merasa bahwa dirinya kurang memiliki kendali atas kehidupannya.

4. Anak Menjadi Pasif dalam Mengungkapkan Keinginan

Ketika anak terbiasa hanya menerima apa yang diberikan tanpa diberi pilihan, ia cenderung tumbuh menjadi pribadi yang pasrah. Ia mungkin merasa tidak berhak menyampaikan pendapatnya dan kesulitan untuk menyuarakan keinginannya.

Padahal, keterampilan komunikasi sangat penting, terutama saat anak mulai berinteraksi dengan teman-teman baru di preschool.

Kemampuan untuk menyatakan preferensi serta pendapatnya akan berpengaruh besar pada kepercayaan dirinya dalam lingkungan sosial.

5. Rasa Tidak Adil Pada Anak 

Keadilan dalam keluarga bukan tentang memberikan hal yang sama kepada setiap anak, tetapi memastikan bahwa kebutuhan mereka terpenuhi sesuai dengan tahapan perkembangan masing-masing.

Jika seorang adik terus-menerus mendapatkan ‘jatah sisa’ dari kakaknya, ia bisa merasa dibandingkan dan tidak diperlakukan dengan adil.

Perasaan ini bisa mengendap hingga dewasa dan mempengaruhi kedekatan anak dengan orang tua maupun saudara kandung. Maka, penting bagi orang tua untuk memastikan bahwa setiap anak mendapatkan perhatian dan perlakuan yang sesuai dengan kebutuhannya

Cara Bijak Menangani Sibling Hand-Me-Down

Meskipun mewariskan barang dari kakak ke adik adalah hal yang wajar, orang tua perlu mengelolanya dengan cara yang bijak agar tetap memberikan pengalaman yang positif bagi anak. Berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan untuk memastikan anak merasa dihargai dalam proses ini.

1. Libatkan Anak dalam Proses Memilih

Sebaiknya jangan langsung memberikan barang bekas kakaknya tanpa bertanya terlebih dahulu. Biarkan anak memilih apakah ia nyaman untuk menggunakannya atau lebih memilih sesuatu yang lain.

Dengan memberi pilihan, anak merasa dihargai dan dilibatkan dalam keputusan yang berhubungan dengan dirinya sendiri.

Perasaan memiliki kendali dalam memilih barang akan membantu anak memahami bahwa ia berhak menentukan preferensinya. Pendekatan ini juga mengurangi potensi perasaan kurang dihargai karena sekadar menerima sesuatu secara pasif.

2. Kombinasikan dengan Barang Baru

Jika ingin memberikan barang bekas, imbangi dengan barang baru yang sifatnya lebih personal bagi anak. Misalnya, baju sekolahnya diwariskan dari kakak, tetapi tas atau botol minumnya baru dan sesuai dengan seleranya.

Dengan cara ini, anak tetap memiliki sesuatu yang spesial untuk dirinya sendiri. Hal ini sangat membantu terutama bagi anak yang sedang dalam tahap persiapan memasuki preschool, sehingga ia merasa bersemangat menghadapi perubahan baru.

3. Berikan Sentuhan Personal

Barang bekas tetap bisa terasa spesial jika diberi modifikasi atau tambahan yang membuatnya lebih personal. Misalnya, menambahkan bordiran nama anak pada pakaian atau menghias buku bekas kakak dengan stiker favorit si adik.

Dengan adanya sentuhan ini, anak merasa bahwa barang tersebut bukan sekadar peninggalan kakaknya, tetapi telah dimodifikasi khusus untuk dirinya. Hal ini membantu membangun rasa memiliki terhadap barang tersebut.

4. Hindari Kalimat Perbandingan

Menggunakan ungkapan seperti “Kakak dulu juga pakai ini, kamu juga harus bisa” bisa membuat anak merasa dibandingkan dengan saudara kandungnya. Sebaiknya ganti dengan kalimat afirmatif seperti, “Ini baju yang dulu kakak suka banget, kamu pasti akan terlihat keren memakainya”.

Dengan pendekatan seperti ini, anak merasa lebih dihargai dan tidak sekadar mengikuti jejak kakaknya. Kalimat yang mendukung dan membangun rasa percaya diri lebih efektif dibandingkan membuat perbandingan yang bisa memicu rasa tidak nyaman.

5. Validasi Perasaan Anak

Jika anak tampak sedih atau kurang bersemangat saat menerima barang bekas, dengarkan perasaannya tanpa menghakimi. Berikan response seperti, “Tidak apa-apa jika kamu merasa seperti itu, Bunda mengerti perasaanmu” untuk menunjukkan empati.

Alih-alih memaksa anak bersyukur tanpa memahami emosinya, orang tua bisa membantunya melihat sisi positif dengan cara yang lembut. Pendekatan ini membuat anak merasa didengar dan lebih siap menerima barang dengan perasaan yang lebih nyaman.

Kesimpulan 

Sibling hand me down bukanlah hal yang salah. Namun penting bagi orang tua untuk memahami bahwa setiap anak memiliki kebutuhan emosional yang berbeda. Apalagi di fase penting seperti persiapan anak sebelum masuk preschool, di mana anak mulai membangun jati diri dan kepercayaan dirinya.

Dengan pendekatan yang penuh kasih, komunikasi terbuka, dan peka terhadap emosi anak, praktik ini bisa menjadi pengalaman yang mempererat hubungan saudara, bukan justru menanamkan luka emosional.

Anak-anak yang merasa dihargai dalam keluarga cenderung memiliki hubungan sosial yang lebih baik dan percaya diri saat memasuki dunia pendidikan formal. Maka, mari jadikan momen sederhana seperti pemberian barang bekas sebagai ladang pendidikan karakter dan cinta yang tak ternilai.

Reference 

  1. Huffpost. 2021. Hand Me Down Are Great, But Don’t Kids Deserve Their Own Style. Diakses pada 2025 ↩︎
Leave A Comment:

Your email address will not be published. Required fields are marked *