Lembaga Pendidikan Montessori Islam

Hal Ini yang Terjadi Jika Anak ADHD Mendapatkan Penolakan, Simak Penjelasannya

anak adhd
July 28, 2025

Ayah dan Bunda, memiliki anak ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder) tentu memiliki pola pengasuhan yang berbeda. Anak-anak dengan ADHD seringkali dihadapkan pada kesulitan dalam fokus, mengendalikan impuls, atau tetap tenang, yang bisa membuat mereka berbeda dari teman sebayanya. 

Sayangnya, perbedaan ini kadang memicu respons negatif dari lingkungan, seperti penolakan. Penting bagi kita untuk memahami bahwa jika anak ADHD mendapatkan penolakan, dampaknya bisa sangat serius dan mendalam bagi perkembangan emosi serta psikologis mereka.

Artikel ini hadir untuk mengupas tuntas hal ini yang terjadi jika anak ADHD mendapatkan penolakan, lengkap dengan penjelasan mengapa respons negatif tersebut dapat memperburuk kondisi mereka. Kita akan membahas bagaimana penolakan dapat memicu rendahnya harga diri, kecemasan, depresi, hingga masalah perilaku lainnya. 

Diharapkan dengan pemahaman ini, Ayah dan Bunda dapat menjadi benteng pelindung bagi si kecil, memberikan penerimaan penuh, dan membimbing lingkungan sekitar untuk lebih memahami serta mendukung anak ADHD. Yuk, simak penjelasannya!

Apa Itu Rejection Sensitive Dysphoria (RSD) dan Gejalanya

Orang tua yang memiliki anak dengan ADHD tentu sudah tidak asing lagi dengan berbagai tantangan emosional yang menyertainya. Namun, satu hal yang sering terlewat dipahami adalah bagaimana anak ADHD mengalami penolakan. 

Bukan sekadar merasa sedih, mereka bisa merasa sangat terpukul hingga kehilangan kendali emosinya. Fenomena ini dikenal dengan istilah Rejection Sensitive Dysphoria atau RSD. Menurut  Sharon Saline PsyD 

“They both may hold onto and repeat unkind words or actions directed towards them for months or years. It’s as if they just can’t seem to shake off a negative comment,” 

Kondisi ini sangat penting untuk dikenali sejak dini, karena bisa berdampak besar terhadap kepercayaan diri, hubungan sosial, dan kesehatan mental anak dalam jangka panjang. Artikel ini akan mengajak Anda mengenali gejala RSD pada anak ADHD dan bagaimana cara mendampingi mereka agar tetap merasa aman dan diterima, terutama dari keluarga terdekat.

Rejection Sensitive Dysphoria adalah kondisi emosional yang membuat seseorang sangat sensitif terhadap penolakan atau kritik. Istilah ini banyak dikaitkan dengan individu yang mengalami ADHD. 

RSD tidak termasuk dalam kriteria diagnosis formal, namun telah dikenal luas di komunitas medis dan psikologis karena dampaknya yang nyata, terutama pada anak-anak.

Anak dengan ADHD memiliki sensitivitas emosional yang tinggi, terutama terhadap penolakan. Respons mereka terhadap kritik atau situasi sosial bisa sangat intens, bahkan jika maksud orang lain sebenarnya tidak menyakiti.

Berikut lima gejala umum yang perlu dikenali agar orang tua bisa memberikan dukungan yang tepat dan penuh pengertian:

1. Merasa Gagal Hanya karena Kritik yang Ringan 

Anak dengan ADHD sering kali menafsirkan masukan atau koreksi sebagai penolakan total. Bahkan kritik yang disampaikan dengan lembut bisa membuat mereka merasa tidak berharga.

Perasaan ini bisa memicu rasa putus asa dan keyakinan bahwa mereka tidak mampu. Maka, penting bagi orang tua untuk menyampaikan koreksi dengan cara yang sangat hati-hati dan penuh empati.

2. Menarik Diri dari Lingkungan Sosial 

Karena takut disalahpahami atau ditolak, anak ADHD bisa memilih menjauh dari teman dan orang-orang terdekat. Ini adalah bentuk perlindungan diri agar mereka tidak kembali merasa terluka.

Penarikan diri ini bukan karena tidak ingin bersosialisasi, tetapi karena mereka merasa tidak aman secara emosional. Orang tua perlu menciptakan ruang yang nyaman agar anak merasa diterima.

3. Mengalami Ledakan Emosi yang Berlebihan 

Penolakan, meski kecil, bisa memicu reaksi emosional yang sangat kuat. Anak bisa menangis keras, marah berlebihan, atau bertindak impulsif sebagai bentuk pelampiasan.

Respons ini bukan karena anak ingin membuat masalah, tetapi karena sistem emosinya bekerja lebih intens. Pendampingan yang tenang dan sabar sangat dibutuhkan saat anak mengalami ledakan emosi.

4. Kesulitan Membedakan Penolakan Nyata dan Perasaan Pribadi 

Anak ADHD sering merasa ditolak meskipun tidak ada penolakan yang nyata. Sistem limbik dalam otak mereka lebih sensitif terhadap rangsangan emosional, sehingga persepsi bisa menjadi kabur.

Akibatnya, mereka bisa merasa tidak disukai hanya karena ekspresi wajah atau nada bicara orang lain. Orang tua perlu membantu anak memahami situasi secara lebih objektif dan penuh kasih.

5. Mengembangkan Pola Pikir Negatif tentang Diri Sendiri 

Karena sering merasa ditolak, anak ADHD bisa mulai percaya bahwa dirinya selalu salah atau tidak cukup baik. Keyakinan ini bisa menghambat perkembangan sosial dan prestasi akademik mereka.

Dukungan emosional yang konsisten sangat penting agar anak tetap merasa diterima. Orang tua perlu menegaskan bahwa cinta dan penerimaan tidak bergantung pada kesempurnaan perilaku.

Penelitian dari Journal of Attention Disorders menunjukkan bahwa 60–70% individu dengan ADHD mengalami gejala Rejection Sensitive Dysphoria (RSD), meski belum semuanya terdiagnosis secara formal.

5 Cara Orang Tua Membantu Anak ADHD Menghadapi Penolakan

Ketika anak dengan ADHD merasa ditolak, mereka membutuhkan dukungan emosional yang tulus dan penuh pengertian. Namun, orang tua juga perlu dibekali cara yang tepat agar respons mereka bisa membangun rasa aman dan kepercayaan diri anak.

Berikut lima pendekatan yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu anak menghadapi penolakan dengan lebih sehat dan tenang:

1. Validasi Perasaan Anak Tanpa Menghakimi 

Saat anak menangis karena merasa tidak diterima, hindari meremehkan emosinya. Kalimat seperti “itu cuma perasaanmu saja” bisa membuat anak merasa semakin terabaikan.

Sebaliknya, peluk anak dan katakan bahwa perasaannya wajar dan dimengerti. Sikap ini akan membuat anak merasa lebih aman dan tidak sendirian dalam menghadapi emosinya.

2. Ajarkan Regulasi Emosi Secara Bertahap 

Gunakan media yang menyenangkan seperti permainan atau cerita bergambar untuk mengenalkan emosi. Anak bisa belajar mengenali perasaan marah, sedih, atau kecewa dengan cara yang ringan.

Contohnya, skala emosi dari 1 sampai 5 bisa membantu anak menilai intensitas emosinya. Dari sana, orang tua bisa mengajarkan cara-cara sederhana untuk menenangkan diri.

3. Hindari Membandingkan Anak dengan Orang Lain 

Kalimat seperti “lihat tuh temanmu lebih tenang” bisa memperkuat rasa tidak diterima. Anak ADHD butuh diyakinkan bahwa dirinya tetap berharga meski cara berekspresinya berbeda.

Setiap anak memiliki keunikan dalam merespons situasi. Dengan menghindari perbandingan, orang tua membantu anak membangun citra diri yang positif dan penuh penerimaan.

4. Gunakan Pendekatan yang Nyaman Saat Memberi Masukan 

Daripada langsung menasihati, ajak anak berdiskusi dengan pertanyaan terbuka. Misalnya, “Menurut kamu, tadi kenapa bisa begitu ya?” akan terasa lebih ramah dan tidak menghakimi.

Cara ini membantu anak belajar merefleksikan perilakunya sendiri. Selain itu, anak merasa dihargai karena pendapatnya didengarkan, bukan hanya diarahkan.

5. Melibatkan Ahli Jika Reaksi Emosinya Semakin Ekstrem 

Jika anak sering menunjukkan perilaku menyakiti diri atau menarik diri secara berlebihan, segera konsultasikan dengan tenaga profesional. Psikolog anak atau dokter tumbuh kembang bisa memberikan penanganan yang sesuai.

Pendekatan terapi yang tepat akan membantu anak mengelola emosinya dengan lebih baik. Orang tua tetap berperan aktif dalam proses ini agar anak merasa didampingi sepenuhnya.

Berikan Pengertian Mengenai Penolakan Pada Anak ADHD 

Menjadi orang tua dari anak ADHD memang menantang, terutama ketika mereka harus menghadapi kenyataan pahit seperti penolakan. Namun, pemahaman tentang kondisi seperti Rejection Sensitive Dysphoria dapat membuka jalan bagi pendekatan yang lebih empatik dan suportif. Anak ADHD mendapatkan penolakan bukan karena mereka lemah, tetapi karena sistem emosi mereka bekerja dengan cara yang berbeda.

Dengan dukungan yang hangat, konsisten, dan penuh pengertian, anak-anak ini tetap bisa tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, percaya diri, dan memiliki empati tinggi. Perjalanan ini memang panjang, tetapi setiap langkah kecil yang Anda lakukan hari ini akan menjadi pondasi besar bagi masa depan mereka.

Reference 

Emily Edlynn, PhD. Diakses pada 2025. Parents. Are Your Kid’s Meltdowns a Sign of Rejection Sensitive Dysphoria?

Leave A Comment:

Your email address will not be published. Required fields are marked *