6 Penyebab Anak Rewel Usia 2 Tahun, Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya
Ayah dan Bunda, menghadapi balita usia 2 tahun yang sedang rewel memang bisa menjadi tantangan tersendiri. Di usia ini, si kecil sedang dalam fase perkembangan pesat, yang seringkali diwarnai dengan ledakan emosi dan perilaku yang sulit dimengerti. Mengapa mereka tiba-tiba menjadi sangat rewel? Anda perlu mengetahui penyebab anak rewel dengan tepat dan penuh kesabaran.
Artikel ini hadir untuk membantu Ayah dan Bunda mengenali berbagai penyebab umum mengapa anak usia 2 tahun sering rewel, serta memberikan cara mengatasi yang efektif. Kami akan membahas faktor-faktor seperti kesulitan berkomunikasi, tantrum sebagai bagian dari perkembangan, kelelahan, atau bahkan perubahan rutinitas.
Dengan mengenali gejala dan penyebabnya, diharapkan Anda dapat memberikan dukungan yang lebih baik, mengurangi frekuensi rewel, dan menciptakan suasana rumah yang lebih tenang bagi buah hati tercinta. Yuk, kita simak penjelasannya!
Penyebab Rewel Anak Usia 2 Tahun
Masa usia dua tahun sering disebut sebagai fase terrible twos. Dalam fase ini, anak sedang mengalami lonjakan perkembangan besar, baik dari sisi kognitif, emosional, maupun bahasa. Tidak heran bila anak jadi lebih sensitif, sulit diatur, dan cenderung tantrum. Berikut beberapa penyebab anak rewel usia 2 tahun yang umum terjadi1.
1. Anak Sedang Mengalami Lonjakan Emosi
Pada tahap ini, anak mulai mengenali berbagai macam emosi, tetapi belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikannya dengan baik. Mereka dapat merasa frustrasi ketika keinginannya tidak terpenuhi atau saat mereka kesulitan mengungkapkan perasaan.
Menurut Early Childhood Research Quarterly (2017), regulasi emosi anak berkembang secara bertahap, sehingga tantrum sering kali menjadi cara mereka berkomunikasi. Ledakan emosi ini bukan sekadar perilaku buruk, melainkan bagian dari proses belajar dalam mengelola perasaan.
2. Perkembangan Bahasa yang Belum Maksimal
Di usia ini, anak sedang dalam tahap belajar berbicara, tetapi belum semua anak mampu menyusun kalimat dengan jelas. Ketika keinginannya tidak dimengerti, mereka bisa merasa kesal dan menunjukkan reaksi berupa tangisan atau sikap rewel.
Kesulitan dalam menyampaikan perasaan sering kali menjadi pemicu munculnya amukan. Orang tua perlu bersabar dan membantu anak dengan memberikan contoh kata-kata sederhana yang dapat mereka gunakan untuk mengungkapkan kebutuhan atau emosi mereka.
3. Perubahan Rutinitas atau Lingkungan
Anak usia 2 tahun sangat bergantung pada rutinitas untuk merasa aman dan nyaman. Ketika terjadi perubahan besar, seperti pindah rumah, ibu mulai bekerja, atau kehadiran adik baru, anak mungkin merasa tidak stabil dan menunjukkan perilaku rewel sebagai bentuk adaptasi.
Rutinitas memberikan anak rasa kepastian, sehingga perubahan yang tiba-tiba bisa membuat mereka bingung. Memberikan transisi yang lembut dan waktu yang cukup bagi anak untuk menyesuaikan diri dapat membantu mengurangi kecemasan mereka.
4. Kelelahan atau Lapar
Kebutuhan dasar seperti makan, tidur, dan istirahat memiliki pengaruh besar terhadap suasana hati anak. Ketika anak mengalami kelelahan atau belum cukup makan, mereka bisa menjadi lebih sensitif dan mudah marah.
Pola tidur yang tidak teratur juga berkontribusi terhadap kestabilan emosinya. Oleh karena itu, memastikan anak mendapatkan cukup waktu istirahat serta makan dengan teratur adalah cara efektif untuk membantu mereka tetap tenang.
5. Merasa Tidak Mandiri tetapi Ingin Mandiri
Di usia ini, anak mulai menunjukkan keinginan untuk melakukan berbagai hal sendiri, seperti memakai sepatu atau mengambil makanan. Ketika mereka tidak berhasil atau tidak diberikan kesempatan untuk mencoba, mereka dapat merasa frustasi dan akhirnya menunjukkan sikap rewel.
Meskipun mereka masih membutuhkan bantuan, membiarkan anak mencoba sesuatu sendiri akan memberikan mereka rasa pencapaian. Orang tua bisa membantu dengan memberikan tugas kecil yang sesuai dengan kemampuan anak, sehingga mereka tetap merasa mandiri.
6. Mencari Perhatian
Rewel juga bisa menjadi cara anak untuk mencari perhatian dari orang tua. Ketika mereka merasa diabaikan, terutama jika orang tua sibuk atau kurang terlibat secara emosional, anak akan berusaha menarik perhatian dengan cara yang mereka ketahui, termasuk menangis atau marah.
Memberikan waktu berkualitas bersama anak tanpa gangguan dari gadget atau pekerjaan akan membantu mereka merasa lebih aman dan dihargai. Ketika anak mendapatkan perhatian yang cukup, mereka lebih cenderung menunjukkan perilaku yang lebih stabil dan tenang.
6 Cara Efektif Mengatasi Anak Usia 2 Tahun yang Rewel
Menghadapi anak rewel memang membutuhkan kesabaran ekstra, tetapi dengan strategi yang tepat, orang tua bisa meredakan serta mencegah perilaku tersebut. Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan di rumah agar anak lebih tenang dan nyaman.
1. Tetap Tenang dan Melibatkan Allah ﷺ dalam Pengasuhan
Saat anak menunjukkan sikap rewel, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah tetap tenang. Bunda bisa perbanyak istighfar dan berdzikir kepada Allah. Dengan ini, perasaan dan hati Bunda tetap merasa nyaman.
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ٢٨
alladzîna âmanû wa tathma’innu qulûbuhum bidzikrillâh, alâ bidzikrillâhi tathma’innul-qulûb
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram. (Q.S Ar Ra’d; 23)
Anak sangat peka terhadap emosi orang tua, sehingga jika orang tua ikut kesal atau marah, suasana akan semakin memanas dan sulit dikendalikan.
Menurut Harvard University Center on the Developing Child, respons yang tenang dan suportif dari orang dewasa sangat penting untuk membantu anak mengembangkan regulasi emosinya. Ketika orang tua tetap sabar, anak lebih mudah merasa aman dan tenang.
2. Validasi Perasaan Anak
Sebelum mencoba menenangkan anak, pastikan mereka merasa dimengerti terlebih dahulu. Mengakui perasaan mereka adalah kunci agar anak tidak semakin frustasi. Ucapan sederhana seperti, “Ibu tahu kamu marah karena tidak boleh main di luar,” membantu anak memahami emosinya.
Dengan pendekatan ini, anak akan merasa dihargai dan lebih mudah untuk menerima arahan. Validasi perasaan mereka bukan berarti menuruti semua keinginannya, tetapi membantu mereka belajar bahwa perasaan mereka diakui dan bisa dikelola dengan baik.
3. Terapkan Rutinitas yang Konsisten
Rutinitas yang terstruktur memberikan rasa aman bagi anak. Jadwal tidur, makan, dan bermain yang tetap akan membantu anak lebih stabil secara emosional karena mereka tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Perubahan jadwal yang mendadak dapat memicu reaksi emosional yang tidak terduga. Oleh karena itu, usahakan untuk menjaga pola harian tetap konsisten agar anak merasa lebih nyaman dalam menjalani kesehariannya.
4. Melatih Anak Mengungkapkan Perasaan dengan Kata-Kata
Anak usia 2 tahun sering kali kesulitan mengungkapkan emosinya dengan jelas. Orang tua dapat membantu dengan memberikan contoh bagaimana mengekspresikan perasaan secara verbal menggunakan kalimat sederhana seperti, “Kamu sedih ya karena mainannya rusak?”
Melatih anak mengenali dan mengungkapkan emosinya dengan kata-kata dapat mengurangi perilaku rewel. Ketika mereka mulai memahami cara menyampaikan perasaan secara verbal, mereka lebih mudah berkomunikasi dan tidak selalu menggunakan tangisan sebagai alat ekspresi.
5. Beri Pilihan agar Anak Merasa Berdaya
Di usia ini, anak mulai ingin merasa memiliki kendali atas keputusan mereka. Memberikan pilihan sederhana seperti, “Kamu mau pakai baju biru atau kuning?” dapat membantu mereka merasa dihargai dan mengurangi potensi konflik.
Pilihan yang diberikan sebaiknya tetap dalam batas yang dapat dikontrol oleh orang tua. Dengan cara ini, anak akan merasa lebih mandiri tanpa harus mengalami frustasi karena keinginannya tidak terpenuhi.
6. Beri Waktu Khusus untuk Bermain Bersama
Anak yang rewel sering kali membutuhkan lebih banyak perhatian dari orang tua. Meluangkan waktu 10 hingga 15 menit setiap hari untuk bermain bersama tanpa gangguan dari gadget atau pekerjaan dapat memberikan rasa aman bagi mereka.
Interaksi yang hangat dan penuh perhatian membantu anak merasa dicintai dan dihargai. Ketika mereka mendapatkan waktu berkualitas dengan orang tua, mereka cenderung lebih tenang dan tidak mencari perhatian dengan cara yang negatif.
Kesimpulan
Rewel adalah bagian dari proses perkembangan anak usia dua tahun. Ibu tidak perlu merasa gagal ketika menghadapi fase ini. Dengan memahami penyebab anak rewel usia 2 tahun, Ibu bisa menyesuaikan cara merespons dan memberikan pendampingan yang tepat. Kuncinya adalah kesabaran, konsistensi, dan kasih sayang.
Fase ini tidak akan berlangsung selamanya. Anak yang didampingi dengan empati dan komunikasi yang sehat akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih tenang dan percaya diri. Jadi, saat si kecil mulai menangis atau marah, tarik napas sejenak, lalu peluk dan dampingi mereka dengan penuh cinta.
Reference
- Healthy Children. Diakses pada 2021. Emotional Development: 2 Year Olds. ↩︎

