Kenali 5 Ciri Anak Perfeksionis: Tanda dan Cara Menghadapinya
Bunda mungkin Anda pernah melihat si kecil tampak gelisah dengan pencapaian yang ia anggap kurang sempurna? Bisa jadi, ia merupakan tipe anak perfeksionis. Karakteristik anak ini memiliki harapan yang sangat tinggi terhadap dirinya sendiri dan sering kali menuntut kesempurnaan dalam segala hal yang mereka lakukan.
Meskipun sikap ini dapat mendorong anak untuk mencapai prestasi yang tinggi, perfeksionisme juga dapat menjadi beban yang berat bagi mereka. Anak-anak yang perfeksionis sering kali mengalami stres, kecemasan, dan kekecewaan yang berlebihan saat mereka tidak dapat mencapai standar yang mereka tetapkan sendiri.
Orang tua dan pendidik perlu memahami ciri anak perfeksionis dan mengetahui cara menghadapinya agar mereka dapat memberikan dukungan yang tepat dan membantu anak mengembangkan sikap yang lebih sehat terhadap prestasi dan kegagalan.
Mengenal Anak Perfeksionis Menurut Ahli
Bunda, memiliki sifat perfeksionis dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu perfeksionisme yang berfokus pada diri sendiri, perfeksionisme yang berorientasi pada orang lain, dan perfeksionisme yang dipengaruhi oleh dorongan lingkungan sekitar.
Anak yang memiliki perfeksionisme berfokus pada diri sendiri cenderung beranggapan bahwa mereka harus menjadi sosok yang sempurna. Oleh karena itu, mereka menetapkan standar tinggi untuk diri mereka sendiri dan berusaha sebisa mungkin menghindari kesalahan dalam segala hal yang mereka kerjakan.
Sementara itu, anak dengan perfeksionisme berorientasi pada orang lain cenderung menetapkan standar tinggi bagi orang-orang di sekitarnya.
Lain halnya dengan perfeksionisme yang dipengaruhi oleh dorongan dari lingkungan sekitar. Pada jenis ini, anak merasa perlu membuktikan kemampuannya agar dapat dihargai dan diterima oleh orang lain.
Penelitian menurut Greenspan ( 2004) yang meneliti sikap perfeksionis pada anak, mendapati bahwa sikap perfeksionis bisa menjadi hal buruk. Anak bisa berubah menjadi negatif seperti perubahan rasa percaya diri, keputusaan hingga kehilangan semangat. Maka dari itu, orang tua perlu memberikan arahan secara bijak dengan ciri anak perfeksionis ini.
Ciri Anak Perfeksionis
Nah, sebelum mengetahui cara menghadapi anak perfeksionis yang dilansir dari Alodokter ada beberapa ciri yang bisa Anda perhatikan. Bunda perlu mengamati bagaimana tindakan si kecil yang menunjukkan ciri anak perfeksionis.
Takut Berlebihan Dengan Kegagalan (Atychiphobia)
Atychiphobia merupakan ketakutan yang kuat akan kegagalan. Orang dengan atychiphobia mungkin menghindari situasi yang memungkinkan mereka mengalami kegagalan, seperti ujian atau masuk sekolah baru.
Ketakutan ini bisa terjadi karena adanya pengalaman traumatis di masa lalu atau pengaruh lingkungan yang menganggap kegagalan tidak dapat diterima.
Penelitian juga menjelaskan bahwa anak dengan rasa ketakutan akan kegagalan lebih besar memiliki peluang penyakit mental dibandingkan dengan lainnya.
Dalam pemberitaan sehari-hari misalnya, seorang anak bisa mengalami gejala stress akibat mendapatkan peringkat tiga dan tidak sesuai ekspektasinya. Peran orang tua dalam mengendalikan tekanan dan pemaksaan pada anak perlu dikurangi.
Sering Menunda Tugas karena Takut Merasa Gagal atau Tidak Sempurna
Perfectionism sering kali menyebabkan anak menunda-nunda tugas karena takut tidak memenuhi standar yang diharapkan. Mereka mungkin merasa bahwa hasil yang tidak sempurna adalah kegagalan, sehingga lebih baik menunda tugas daripada menghadapi kemungkinan gagal.
Menurut Dr. Fuschia Sirois, anak-anak yang menunda tugas karena menuntut kesempurnaan seringkali tidak tahu bagaimana menghadapi kegagalan. Mereka merasa bahwa kegagalan adalah akhir dari segalanya dan tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.
Anak-anak yang keras pada dirinya sendiri, hingga adanya kebiasaan menunda tugas dan pekerjaannya, perlu mendapatkan perhatian dan pujian positif bahwa menyelesaikan tugas tidak harus sempurna.
Sulit Menerima Kesalahan atau Kekalahan
Orang dengan atychiphobia atau perfeksionis sering kali sulit menerima kesalahan atau kekalahan karena mereka melihatnya sebagai ancaman terhadap harga diri mereka. Mereka mungkin merasa malu atau takut dihakimi oleh orang lain, sehingga lebih suka menghindari kesalahan daripada mengakui dan belajar dari mereka.
Ahli Psikologi Dr. Carol Dweck anak-anak dengan kondisi tersebut, menganggap dan percaya bahwa kemampuan mereka adalah sesuatu yang tidak bisa diubah. Sehingga kesalahan dan kekalahan merupakan tanda ketidakmampuan secara permanen.
Bunda dan ayah perlu menghindari si kecil dari ekspektasi dan tekanan tinggi atas hasil pencapaian dan prestasinya. Anda bisa menjelaskan bahwa kesempatan gagal merupakan hal baik yang bisa dipelajari.
Sering Mengkritik Diri Sendiri dan Orang Lain
Perfectionism juga dapat menyebabkan anak mengkritik diri sendiri dan orang lain secara berlebihan. Mereka mungkin memiliki standar yang sangat tinggi dan mengharapkan kesempurnaan dari diri mereka sendiri dan orang lain, yang dapat mengakibatkan kritik yang berlebihan dan negatif.
Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Susan David menjelaskan bahwa anak dengan kesulitan dalam mengatur emosi mereka cara untuk mengatasi perasaan negatif seperti kecemasan, marah, atau sedih yang sedang mereka rasakan.
Kritik ini juga bisa mereka gunakan sebagai mekanisme pertahanan untuk melindungi diri dari rasa sakit emosional akibat kegagalan yang mereka alami. Pada saat ini, orang tua perlu memberikan afirmasi positif pada anak.
Adakah Bahaya Jika Anak Terlalu Perfeksionis?
Sayangnya, sifat perfeksionis yang dimiliki anak-anak bukannya memberikan motivasi namun bisa berakibat pada permasalahan mental yang dimilikinya. Anak perfeksionis bisa saja memendam perasaan secara sendiri dengan perasaan takut yang sedih ia rasakan.
Jika sifat perfeksionisme tidak dikendalikan, anak-anak bisa menjadi rentan terhadap stres dan mengalami masalah kesehatan mental yang lebih serius, seperti fobia terhadap kesalahan (atelophobia), gangguan kecemasan, depresi, dan perilaku menyakiti diri sendiri (self-harm). Dalam beberapa kasus, kesulitan menerima kegagalan dapat menyebabkan anak perfeksionis menghukum dirinya sendiri atau bahkan mengalami keinginan untuk bunuh diri.
Cara Menangani Anak Perfeksionis
Agar hal buruk tidak terjadi pada si kecil, bunda sebaiknya melakukan tindakan preventif untuk menanganinya. Ada sejumlah cara yang bisa Anda coba untuk menangani sifat perfeksionis yang dimiliki anak:
Bantu Anak untuk Mengenali Hal yang Bisa Dikendalikan dan Tidak
Mengajarkan anak tentang apa yang bisa dan tidak bisa mereka kendalikan membantu mereka mengelola ekspektasi dan mengurangi stres.
Menurut American Psychological Association (APA), memahami batasan kontrol dapat membantu anak-anak mengembangkan strategi coping yang efektif dan mengurangi perasaan putus asa.
Contohnya kenalkan anak dengan sesuatu yang bisa dikendalikan dan yang tidak bisa dikendalikan. Misalnya, usaha dan tekad yang kuat merupakan yang bisa anak kendalikan.
Sebaliknya, hasil, kesulitan, kinerja teman merupakan yang tidak anak kendalikan.
Bangun Rasa Empati pada Anak
Penelitian dari Harvard University menunjukkan bahwa empati tidak hanya membantu anak-anak mengembangkan hubungan yang lebih baik dengan orang lain, tetapi juga membantu mereka lebih menerima diri mereka sendiri.
Empati juga meningkatkan keterampilan sosial dan emosional yang penting untuk perkembangan anak.
Bunda dan ayah bisa menggunakan berbagai contoh pendekatan dengan diskusi emosi, role playing untuk memberikan rasa empati pada anak. Bunda juga perlu menanyakan secara langsung mengenai perasaan anak saat tidak mencapai sesuatu yang ia inginkan.
Ajarkan Anak Positive Self-Talk
Positive self-talk telah terbukti membantu mengurangi kecemasan, meningkatkan kepercayaan diri, dan mendorong pandangan hidup yang lebih optimis.
Menurut Mayo Clinic, berdialog dengan diri sendiri menggunakan kalimat positif dapat membantu anak mengenali perasaannya.
Mengajak anak untuk berkata hal-hal positif tentang diri mereka setiap hari. Disisi lain, latih ia untuk mengubah pikiran negatif menjadi positif, misalnya, “Saya tidak bisa melakukan ini” menjadi “Saya akan mencoba yang terbaik”.
Anda juga bisa mencoba menggunakan kata-kata dalam kehidupan sehari-hari untuk mengapresiasi segala usaha anak, misalnya ‘ Ih anak ayah hebat loh!, ‘anak bunda sudah bekerja keras, semangat!’ dan masih banyak lagi.
Nah, itulah sejumlah ciri, cara mengatasi dan dampak negatif jika melihat anak perfeksionis. Bunda dan ayah perlu peka dengan berbagai kemungkinan anak dengan ciri perfeksionis serta temukan cara tepat untuk menanganinya, seperti yang dijelaskan sebelumnya.
Reference
- American Psychology Association Journal
- Jurnal psikologi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
- Halodoc.com




