Fenomena Favoritisme dalam Keluarga dan Dampak yang Terjadi Pada Anak
Ayah dan Bunda, pernahkah Anda mendengar atau bahkan menyaksikan sendiri fenomena favoritisme dalam keluarga? Kondisi di mana satu anak diperlakukan lebih istimewa dibandingkan yang lain bisa jadi merupakan isu sensitif, namun seringkali terjadi tanpa disadari.
Mungkin dimulai dari hal kecil, seperti pujian yang lebih sering, perhatian ekstra, atau bahkan pemakluman terhadap kesalahan tertentu. Namun, dibalik niat baik atau ketidaksengajaan, preferensi semacam ini dapat meninggalkan dampak yang signifikan dan mendalam pada anak-anak.
Artikel ini hadir untuk mengupas tuntas fenomena favoritisme pada keluarga dan berbagai dampak yang terjadi pada anak, baik bagi anak yang difavoritkan maupun yang merasa diabaikan. Kita akan membahas bagaimana pola asuh ini bisa mempengaruhi perkembangan emosional, psikologis, hingga hubungan antar saudara.
Diharapkan dengan pemahaman yang lebih baik, Ayah dan Bunda dapat menciptakan lingkungan keluarga yang adil, penuh kasih sayang, dan mendukung tumbuh kembang setiap anak secara optimal. Yuk, simak ulasan selengkapnya!
Dampak Negatif Favoritisme dalam Keluarga terhadap Anak
Ketika orang tua secara tidak disadari menunjukkan perlakuan istimewa kepada satu anak, situasi ini dapat meninggalkan jejak emosional yang mendalam bagi semua anak dalam keluarga. Perlakuan yang tidak seimbang bukan hanya menciptakan kecemburuan, tapi juga berpengaruh terhadap pembentukan karakter dan hubungan sosial mereka.
Dalam sejumlah penelitian yang dilakukan oleh Jensen & Jorgensen Wells pada tahun 2025 mengumpulkan bukti dengan melibatkan 19.456 partisipan dalam 30 studi ilmiahnya. Dalam penelitian tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa orang tua ternyata lebih menyukai anak perempuan.
Anak yang rajin dan mudah bergaul diperlakukan lebih baik. Selain itu, kakak lebih sering mendapatkan kebebasan dan kontrol bila dibandingkan dengan adiknya. Sayangnya, dengan adanya favoritisme ini, ada dampak pengasuhan yang tidak bisa diabaikan.
Berikut lima dampak yang perlu diwaspadai agar pola pengasuhan tetap seimbang dan menciptakan suasana keluarga yang hangat dan inklusif:
1. Rasa Rendah Diri pada Anak yang Tidak Diistimewakan
Anak yang merasa kurang diperhatikan cenderung tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya tidak cukup berarti. Ia bisa merasa tidak sepenuhnya dicintai dan mulai meragukan nilai dirinya sendiri.
Studi lain juga menunjukkan bahwa anak yang merasa kurang disukai atau mengalami favoritisme dalam keluarga bisa mengakibatkan penurunan motivasi belajar dan kesejahteraan emosional. Ketimpangan ini berdampak jangka panjang terhadap rasa percaya dirinya.
2. Munculnya Konflik di Antara Saudara Kandung
Favoritisme dalam keluarga dapat memicu kecemburuan dan perasaan iri antar saudara. Bukannya saling mendukung, anak-anak justru terjebak dalam persaingan yang tidak sehat.
Dalam penelitian lain juga mengungkap bahwa rivalitas antar saudara sering berakar dari perlakuan yang dirasa tidak adil oleh orang tua. Ini dapat merusak kelekatan dalam hubungan antar saudara.
3. Tekanan Emosional pada Anak yang Diunggulkan
Menjadi anak yang difavoritkan bukan berarti bebas dari dampak negatif. Ia bisa merasa tertekan untuk selalu memenuhi harapan dan takut kehilangan posisi istimewanya di mata orang tua.
Akibatnya, anak berisiko mengalami stres atau kecemasan yang tersembunyi. Tanpa ruang untuk menjadi diri sendiri, jati dirinya bisa terhambat dalam proses berkembang.
4. Terganggunya Rasa Aman dan Percaya Diri Anak
Jika anak merasa cinta orang tua hanya diberikan saat ia “layak”, maka rasa aman emosional akan terganggu. Anak menjadi pribadi yang bergantung pada validasi eksternal untuk merasa berharga.
Situasi ini mendorong anak untuk terus mencari pengakuan dari luar, alih-alih tumbuh dengan penerimaan diri yang sehat. Kebutuhan akan cinta tanpa syarat sangat penting bagi kestabilan emosional anak.
5. Pola Asuh Tidak Sehat Bisa Diwariskan ke Generasi Berikutnya
Favoritisme yang dibiarkan tanpa disadari dapat terbawa ke pola pengasuhan anak ketika mereka dewasa kelak. Pola ini bisa terus berulang dari generasi ke generasi.
Anak yang tumbuh dengan luka favoritisme berisiko mengulangi pola yang sama saat menjadi orang tua. Karena itu, penting bagi orang tua sekarang untuk membangun keadilan emosional sejak dini.
5 Cara Mencegah Dampak Favoritisme dalam Pengasuhan Anak
Meski niat orang tua selalu berangkat dari cinta, tanpa disadari sikap yang terlihat condong ke salah satu anak bisa menimbulkan luka emosional. Untuk menjaga keseimbangan hubungan dalam keluarga, ada beberapa langkah penting yang dapat dilakukan sejak dini.
Berikut lima cara yang bisa diterapkan agar semua anak merasa dicintai secara adil, diterima seutuhnya, dan terhindar dari rasa kurang berharga:
1. Lakukan Refleksi Diri atas Pola Interaksi Sehari-Hari
Langkah awal dalam mencegah favoritisme adalah menyadari kecenderungan pola asuh. Tanyakan pada diri sendiri: apakah saya lebih sering memuji satu anak dibanding yang lain?
Cobalah membuat jurnal singkat yang mencatat interaksi dengan anak setiap hari. Dari sana, Bunda bisa melihat apakah perlakuan sudah seimbang atau masih butuh penyesuaian.
2. Bangun Kedekatan Personal Tanpa Perbandingan
Setiap anak punya kepribadian dan kebutuhan yang berbeda. Luangkan waktu berkualitas bersama mereka secara individual untuk mengenal dunia mereka lebih dalam.
Contohnya, ajak anak pertama menggambar bersama, dan anak kedua jalan pagi berdua. Momen ini membuat anak merasa istimewa tanpa harus bersaing satu sama lain.
3. Hindari Kalimat Perbandingan antar Saudara Kandung
Ucapan seperti “Kakak lebih rapi, kamu harus bisa seperti dia” mungkin terdengar biasa, tapi menyimpan efek emosional yang dalam. Perbandingan melahirkan rasa kurang dihargai.
Fokuslah pada keunikan dan kekuatan masing-masing anak. Pujian yang ditujukan untuk prestasi pribadi akan jauh lebih membangun rasa percaya diri mereka.
4. Terapkan Prinsip Adil Pada Anak yang Tepat
Adil bukan berarti selalu sama rata, tetapi menyesuaikan dengan kebutuhan anak sesuai usia dan situasi. Anak kecil mungkin lebih butuh pelukan, sementara anak remaja butuh kepercayaan.
Contohnya, jika satu anak sedang menghadapi ujian, berikan waktu belajar tambahan tanpa mengurangi perhatian anak yang lain. Fleksibilitas ini memperlihatkan kasih sayang yang penuh pemahaman.
5. Melibatkan Anak dalam Dialog dan Keputusan Keluarga
Mengajak anak ikut berdiskusi soal rutinitas keluarga atau aturan rumah membuat mereka merasa diakui. Ini membantu membangun rasa dihargai dan mencegah kesan pilih kasih.
Berikan ruang bagi mereka untuk mengutarakan pendapat dan perasaan. Bila ada yang merasa diperlakukan tidak adil, diskusi terbuka bisa menjadi jalan untuk memperbaikinya dengan hati yang lembut.
Perlunya Mencegah Fenomena Favoritisme dalam Keluarga yang Tepat
Favoritisme dalam keluarga adalah fenomena yang nyata dan berdampak dalam. Tanpa disadari, orang tua bisa memperlakukan anak-anak mereka secara tidak setara dan membentuk luka batin jangka panjang.
Namun, dengan kesadaran, refleksi diri, dan tindakan aktif untuk memperlakukan anak secara adil dan penuh cinta, orang tua bisa mencegah dampak buruk favoritisme sejak dini.
Bunda perlu diingat bahwa setiap anak berhak merasa dicintai tanpa syarat dan diperlakukan dengan hormat sebagai pribadi yang unik.
Reference
Jensen, A. C., & Jorgensen-Wells, M. A. (2025). Parents favor daughters: A meta-analysis of gender and other predictors of parental differential treatment. Psychological Bulletin.




