Lembaga Pendidikan Montessori Islam

Apa Dampak Buruk Reward Saat Anak Tantrum? Simak Ini Penjelasannya

dampak buruk reward
June 24, 2025

Ayah dan Bunda, pernah gak sih tanpa kita sadari, kita kerap kali memberikan reward saat anak tantrum untuk menenangkan anak. Entah itu permen, mainan baru, atau janji jalan-jalan agar anak segera berhenti menangis atau merengek. Niatnya baik, yaitu menenangkan si kecil. Namun, tahukah Anda bahwa kebiasaan ini justru bisa memiliki dampak buruk reward dalam jangka panjang pada perilaku anak? 

Artikel ini hadir untuk membantu Ayah dan Bunda memahami apa dampak buruk memberikan reward saat anak tantrum. 

Kita akan mengupas mengapa strategi ini, alih-alih efektif, justru bisa mengajarkan anak bahwa tantrum adalah cara ampuh untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Dengan mengenali potensi jebakan ini, diharapkan Anda dapat mencari alternatif penanganan tantrum yang lebih konstruktif, membimbing anak mengelola emosi dengan sehat, dan mencegah pola perilaku negatif. Yuk, simak penjelasan selengkapnya!

Dampak Buruk Reward Saat Anak Tantrum

Tantrum adalah bagian dari fase tumbuh kembang anak, terutama pada usia balita. Saat anak tantrum, banyak orang tua merasa bingung dan frustasi, hingga memilih memberikan hadiah atau reward agar anak segera diam. 

Misalnya, memberikan permen, mainan, atau membiarkan anak menonton TV sebagai bentuk penenang. Meski terkesan menyelesaikan masalah secara cepat, namun cara ini justru menyimpan efek jangka panjang yang tidak sehat.

Bahkan efek ini juga selaras dengan pernyataan sejumlah ahli yang menyampaikan bahwa memberikan hadiah kepada anak untuk sebuah prestasi atau menenangkan anak membuat anak tidak mampu mempertanggungjawabkan perilakunya sendiri. 

Sayangnya, hal ini juga membuat anak menjadi tidak mandiri. Anak akan melakukan hal sebagai tindakan mendapatkan simpati kepada kedua orang tuanya. 

Memberikan reward saat anak tantrum sebetulnya adalah bentuk penguatan negatif terselubung, di mana anak justru belajar bahwa ledakan emosinya dapat digunakan untuk memperoleh sesuatu. Padahal, tantrum seharusnya menjadi momen untuk belajar mengatur emosi, bukan ajang tawar-menawar.

Memberi hadiah untuk meredakan tantrum mungkin terasa seperti solusi praktis. Namun, jika hal ini terus dilakukan, anak akan kehilangan kesempatan penting untuk belajar mengelola emosinya sendiri. Berikut ini lima dampak buruk yang perlu diwaspadai orang tua:

1. Anak Belajar Menggunakan Tangisan sebagai Alat untuk Meminta

Saat orang tua terbiasa menghadiahi anak yang sedang tantrum, anak akan menyimpulkan bahwa menangis adalah cara efektif untuk mendapatkan sesuatu. Dampak buruk reward bagi anak bisa membuat anak melihat emosi sebagai alat negosiasi, bukan sebagai ekspresi perasaan yang wajar.

Lambat laun, anak akan menjadikan tangisan atau kemarahan sebagai strategi untuk mengendalikan situasi. Ini akan menyulitkan proses pendidikan nilai, karena anak lebih fokus pada hasil yang ia inginkan daripada memahami batasan.

2. Proses Belajar Mengelola Emosi Jadi Terhambat

Tantrum sebenarnya adalah momen penting bagi anak untuk belajar mengenali emosi dan mencari cara menenangkan diri. Jika setiap ledakan emosi langsung dihentikan dengan hadiah, anak tidak belajar menghadapi perasaannya sendiri.

Ia akan terbiasa mengalihkan perhatian ke hadiah, bukan berlatih mengatur perasaannya. Padahal, kecakapan mengelola emosi adalah bekal penting dalam menghadapi tantangan sosial dan akademik di masa depan.

3. Terbentuk Ketergantungan Pada Anak Terhadap Hadiah 

Studi lainnya menunjukkan bahwa hadiah memang bisa mengubah perilaku dalam jangka pendek. Tapi jika terus-menerus digunakan, anak jadi hanya bertindak positif saat ada imbalan.

Anak tidak termotivasi oleh pemahaman atau kesadaran diri, tapi karena mengharapkan hadiah. Ini akan menghambat pembentukan kontrol diri yang sejati, yang sangat penting dalam perkembangan kepribadian yang tangguh.

4. Batasan dan Otoritas Orang Tua Jadi Kabur

Ketika orang tua menyerah memberi hadiah setiap kali anak menangis, anak bisa bingung membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Ia mungkin merasa semua permintaannya harus dituruti, karena berhasil “menundukkan” orang tuanya dengan emosi.

Situasi ini dapat mengikis rasa hormat terhadap aturan dan figur orang tua. Lama-kelamaan, anak tidak lagi melihat orang tua sebagai pembimbing yang tegas dan penuh kasih, melainkan sebagai pemberi hadiah jika ia cukup marah.

5. Anak Jadi Kurang Tahan Terhadap Frustasi

Anak yang dibiasakan mendapat sesuatu untuk meredakan emosinya cenderung kurang mampu menghadapi kekecewaan. Ia akan mudah menyerah ketika menghadapi situasi sulit karena tidak terbiasa menoleransi ketidaknyamanan.

Hal ini bisa mengurangi daya tahan mental anak, membuatnya tidak siap menghadapi tekanan kehidupan yang nyata. Ketahanan emosional yang sehat justru terbentuk dari pengalaman melewati frustrasi dengan dukungan, bukan dengan imbalan.

Cara Sehat dan Ideal Menangani Anak yang Sedang Tantrum

Tantrum bukanlah tanda bahwa anak nakal atau tidak patuh. Sebaliknya, ini merupakan sinyal bahwa ia belum mampu mengatur emosinya dengan baik. Di sinilah peran orang tua dibutuhkan bukan untuk menghentikan emosi dengan segera, tapi mendampingi dengan tenang dan penuh pengertian.

Berikut beberapa cara tepat yang bisa dilakukan orang tua dalam merespons tantrum, agar anak tumbuh dengan regulasi emosi yang lebih kuat dan sehat:

1. Hadir Penuh dan Tetap Tenang Saat Anak Mengamuk

Saat tantrum muncul, kunci utama ada pada kemampuan orang tua untuk tetap tenang. Jangan terpancing emosi atau terburu-buru menghentikan tangisan anak.

Tundukkan badan agar sejajar dengan posisi anak dan beri sentuhan yang lembut, seperti mengelus punggung. Ini menandakan bahwa Anda hadir secara emosional dan siap mendampingi dengan penuh perhatian.

2. Akui dan Validasi Emosinya, Bukan Perilakunya

Anak sering tantrum karena merasa tidak dipahami atau diabaikan. Ucapan seperti, “Mama tahu kamu kesal karena mainannya diambil,” bisa membuat anak merasa dimengerti. Jangan biarkan anak mengenali sendiri perasaannya, bantu anak tahu dengan dirinya. 

Namun, penting untuk menegaskan bahwa perilaku destruktif seperti memukul atau berteriak tetap tidak bisa diterima. Validasi emosi membantu anak belajar bahwa perasaan boleh hadir, tapi tindakan tetap harus bertanggung jawab.

3. Latih Anak Mengenali dan Mengelola Emosinya

Gunakan aktivitas harian untuk membantu anak memahami emosinya, seperti membaca buku tentang perasaan atau bermain peran sederhana. Ini melatih mereka menamai apa yang sedang dirasakan.

Ajarkan juga teknik pernapasan perlahan dan beri contoh bagaimana menenangkan diri ketika marah. Anak yang terbiasa diajak menyadari emosinya akan lebih mampu mengatur reaksi saat kecewa.

4. Beri Apresiasi Saat Anak Berusaha Mengendalikan Diri

Setelah anak mampu merespons dengan lebih tenang atau bersedia berdialog, berikan pujian yang tulus. Misalnya, “Mama bangga kamu bisa bilang apa yang kamu rasakan tadi.” Hal ini bisa membantu anak menghargai usaha atau perasaannya. 

Pujian semacam ini menguatkan perilaku positif dan membuat anak merasa usahanya dihargai. Anak jadi tahu bahwa ketenangan dan komunikasi terbuka adalah sesuatu yang layak dibanggakan.

Kesimpulan 

Menghadapi tantrum anak memang membutuhkan kesabaran ekstra, namun membiasakan diri memberikan reward saat anak tantrum justru bisa membawa dampak jangka panjang yang negatif. Dampak buruk reward bisa membuat anak akan belajar menggunakan emosinya sebagai alat, bukan sebagai pengalaman yang perlu dipahami dan diatur.

Sebagai orang tua, kita punya peran besar dalam membentuk ketahanan emosional anak. Alih-alih memberi hadiah ketika anak menangis atau marah, berikan pelukan, pemahaman, dan batas yang tegas. Inilah bentuk kasih sayang jangka panjang yang lebih bermakna daripada sekadar imbalan sesaat.

Reference 

Alfie Kohn. The Risks of Rewards. Diakses pada 2025.

Leave A Comment:

Your email address will not be published. Required fields are marked *