Lembaga Pendidikan Montessori Islam

Anak Tantrum Saat Mengaji? Simak Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya Bun!

anak tantrum saat mengaji
November 26, 2025

Ayah dan Bunda, ternyata ada menghadapi anak tantrum saat mengaji bisa menjadi salah satu momen yang sangat menguji kesabaran kita saat mengajari anak mengaji. Pemandangan anak menangis, berteriak, atau menolak duduk saat sesi mengaji dimulai seringkali membuat kita bertanya-tanya. 

Penting untuk diingat bahwa tantrum jarang sekali disebabkan oleh penolakan anak terhadap Al-Qur’an itu sendiri. Biasanya tantrum ini terjadi saat anak merasa rasa lelah, lapar, durasi belajar yang terlalu panjang, atau kesulitan memahami materi yang terlalu abstrak untuk usia mereka. Respon kita haruslah empati dan analisis, bukan kemarahan.

Artikel ini hadir untuk membantu Ayah dan Bunda mengurai akar masalah ini. Kita akan membahas cara mengatasi anak tantrum saat mengaji dengan menyesuaikan lingkungan, waktu, dan metode belajar agar sesi mengaji menjadi waktu yang dinantikan, bukan dihindari. Yuk, simak ulasan selengkapnya!

Penyebab Anak Tantrum Saat Mengaji

Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak sejak dini adalah salah satu bentuk pendidikan spiritual yang sangat penting. Namun, tidak jarang orang tua menghadapi tantangan ketika anak tantrum mengaji. 

Anak bisa tiba-tiba menangis, marah, atau menolak duduk untuk membaca huruf hijaiyah. Kondisi ini wajar terjadi karena anak usia dini masih berada dalam fase perkembangan emosi yang belum stabil. Tantrum adalah bentuk ekspresi anak ketika mereka merasa kesulitan, lelah, atau tidak nyaman dengan aktivitas tertentu.

Faktor Usia dan Perkembangan Emosi

Anak usia 3-6 tahun masih berada dalam fase golden age di mana perkembangan emosinya belum matang. Mereka sering kali kesulitan mengontrol perasaan ketika menghadapi hal baru atau aktivitas yang menantang.

Tantrum adalah cara anak mengekspresikan frustasi. Ketika mengaji terasa sulit, anak bisa melampiaskan emosi dengan menangis atau menolak. Inilah salah satu alasan mengapa anak tantrum mengaji cukup sering terjadi.

Metode Belajar yang Kurang Menarik

Jika cara mengaji hanya dilakukan dengan membaca berulang tanpa variasi, anak akan cepat merasa bosan. Anak usia dini membutuhkan pendekatan kreatif yang sesuai dengan dunia mereka, seperti permainan atau lagu.

Pembelajaran berbasis permainan lebih efektif untuk anak usia dini. Tanpa metode menarik, anak akan merasa mengaji adalah aktivitas yang membatasi kebebasan mereka, sehingga memicu tantrum.

Lingkungan Belajar yang Tidak Kondusif

Lingkungan rumah yang ramai, suara televisi, atau kehadiran gawai sering kali membuat anak sulit berkonsentrasi. Distraksi ini membuat anak lebih memilih bermain dibandingkan mengaji.

Suasana belajar yang kondusif sangat berpengaruh terhadap fokus anak. Tanpa lingkungan yang mendukung, anak tantrum mengaji lebih mudah terjadi karena mereka tidak bisa berkonsentrasi.

Kurangnya Dukungan Emosional dari Orang Tua

Anak membutuhkan dorongan emosional agar merasa aman saat belajar. Jika orang tua terlalu menekankan kesalahan tanpa memberikan apresiasi, anak bisa merasa tidak dihargai.

Apresiasi sederhana seperti pujian atau pelukan dapat meningkatkan semangat anak. Tanpa dukungan emosional, anak akan merasa mengaji adalah beban, bukan aktivitas menyenangkan, sehingga memicu tantrum.

Kelelahan atau Kondisi Fisik Anak

Tantrum juga bisa terjadi karena anak sedang lelah, lapar, atau kurang tidur. Kondisi fisik yang tidak mendukung membuat anak sulit fokus dan lebih mudah marah.

Dalam kondisi atau kelelahan fisik anak bisa mengalami keadaan dimana anak tidak nyaman untuk belajar. Hal ini bisa membuat anak dalam kondisi fisik sangat mempengaruhi emosi anak. Jika anak dipaksa mengaji saat lelah, tantrum akan lebih mudah muncul. 

Cara Mengatasi Anak Tantrum Saat Mengaji

Nah, jika anak merasa tidak nyaman saat mengaji dan membuat anak ingin menyudahi aktifitasnya, selain Anda perlu mengetahui penyebab anak tantrum saat mengaji, Anda juga bisa mulai memberikan pendekatan yang menyenangkan agar anak siap untuk mengaji bersama. Mulai dari membuat kegiatan yang ringan dan mengingatkan anak mengaji hingga mendaftarkan anak dengan lembaga mengaji yang ideal untuk anak. 

1.Validasi Perasaan Anak Terlebih Dahulu

Sering kali anak menolak atau tantrum saat diajak mengaji bukan karena mereka tidak mau belajar, tetapi karena ada perasaan yang belum tersampaikan. Orang tua bisa mulai dengan mendengarkan dan mengakui perasaan anak: “Ayah tahu kamu capek setelah main, ya?” atau “Ibu mengerti kalau kamu ingin istirahat dulu.” Validasi ini membuat anak merasa dipahami, sehingga resistensi mereka berkurang.

Dengan cara ini, anak belajar bahwa mengaji bukanlah paksaan, melainkan aktivitas yang bisa dilakukan dengan hati yang tenang. Ketika perasaan mereka dihargai, anak lebih terbuka untuk diajak belajar.

2. Memberikan Pemahaman Tanpa Paksaan

Daripada langsung menyuruh anak duduk dan membuka buku, orang tua bisa menjelaskan makna mengaji dengan bahasa sederhana: “Kalau kita belajar huruf hijaiyah, nanti kita bisa membaca doa dan ayat Al-Qur’an sendiri.” Penjelasan yang lembut dan penuh makna membuat anak melihat tujuan, bukan sekadar tugas.

Pendekatan ini menumbuhkan motivasi intrinsik. Anak merasa belajar mengaji adalah pilihan yang membawa manfaat, bukan kewajiban yang membebani. Dengan begitu, mereka lebih konsisten dan bersemangat.

3. Mengajak Anak Terlibat dalam Keputusan

Melibatkan anak dalam menentukan cara belajar. Misalnya, tanyakan: “Kamu mau belajar huruf hijaiyah pakai kartu atau permainan edukatif?” Memberi ruang untuk memilih membuat anak merasa punya kendali. Ketika anak merasa dilibatkan, mereka lebih bertanggung jawab terhadap proses belajarnya.

Pendekatan ini bisa membantu anak membangun motivasi dari dalam dirinya. Mereka merasa belajar mengaji adalah pilihan yang membawa manfaat, bukan kewajiban yang membebani. Ketika anak memahami tujuan, mereka lebih konsisten dan bersemangat. Orang tua pun bisa menghindari konflik atau tantrum, karena anak merasa dihargai dan diberi ruang untuk belajar sesuai kesiapan mereka.

4. Mengaitkan dengan Aktivitas yang Disukai Anak

Setiap anak memiliki minat unik, dan orang tua bisa memanfaatkannya untuk mengenalkan huruf hijaiyah. Jika anak suka menggambar, ajak mereka menggambar huruf hijaiyah dengan warna ceria. Dengan mengaitkan mengaji pada aktivitas favorit, anak merasa belajar adalah bagian dari kesenangan mereka.

Cara ini membuat proses belajar lebih menyenangkan dan personal. Anak tidak merasa dipaksa, melainkan melihat huruf hijaiyah sebagai bagian dari dunia bermain mereka. Selain itu, aktivitas yang disukai anak juga memperkuat keterikatan emosional dengan huruf hijaiyah. Mereka belajar sambil berkreasi, sehingga mengaji menjadi pengalaman yang penuh makna dan lebih mudah diingat.

Mengatasi Anak Malas Saat Mengaji? Tenang, TPQ Online Punya Metode Mengaji Menyenangkan

Anak tantrum mengaji bisa menjadi hal yang wajar karena mereka masih berada dalam tahap perkembangan emosi yang belum stabil. Bisa jadi rasa ini muncul saat anak masih ingin bermain, lapar, mengantuk dan tidak fokus belajar. 

Namun, Bunda dapat mengatasi hal tersebut dengan memaksimalkan mengaji yang menyenangkan untuk anak. Nah, salah satu lembaga mengaji menyenangkan yang bisa kami rekomendasikan untuk Anda yakni lembaga mengaji TPQ Online Albata. 

TPQ Online Albata menawarkan kesempatan belajar mengaji anak mulai dari usia 3 hingga 13 tahun. Dengan menggunakan metode fun learning yang interaktif, anak-anak dapat mempelajari Al-Qur’an dengan cara yang menarik dan mudah dipahami baik untuk anak dalam negeri maupun luar negeri.  

Bersama dengan ustadzah profesional, TPQ Online Albata siap untuk menemani anak belajar mengaji sampai bisa. Yuk, segera daftarkan putra-putri Anda di TPQ Albata Online dan saksikan mereka tumbuh menjadi generasi Qurani yang cerdas dan berakhlak mulia. 

Karena kuota terbatas, segera kunjungi tautan dibawah ini untuk informasi lebih lanjut, atau Anda dapat mencari tahu lebih banyak melalui akun Instagram Albata di Albata.id.

Leave A Comment:

Your email address will not be published. Required fields are marked *