Lembaga Pendidikan Montessori Islam

Ketika Anak Melihat Pertengkaran Orang Tua, Apa yang Harus Dilakukan? Simak Ini Penjelasannya

pertengkaran orang tua
June 22, 2025

Ayah dan Bunda, pertengkaran orang tua dalam rumah tangga adalah hal yang mungkin sulit dihindari sepenuhnya. Namun, ketika pertengkaran itu terjadi di hadapan anak-anak, dampaknya bisa jauh lebih besar dari yang kita bayangkan. 

Anak-anak yang menyaksikan orang tuanya bertengkar bisa merasa takut, cemas, bingung, atau bahkan menyalahkan diri sendiri. Ini bisa meninggalkan jejak emosional yang mendalam dan mempengaruhi rasa aman serta perkembangan psikologis mereka.

Artikel ini hadir untuk membantu Ayah dan Bunda memahami apa yang harus dilakukan ketika anak melihat pertengkaran orang tua. Kami akan membahas bagaimana menjelaskan situasi kepada anak, cara menenangkan mereka, dan yang terpenting, bagaimana menjaga komunikasi dan ikatan keluarga tetap utuh pasca-kejadian. 

Dengan penanganan yang tepat dan penuh kasih sayang, diharapkan Anda dapat meminimalkan dampak negatif dan membantu si kecil merasa aman kembali. Yuk, simak penjelasan selengkapnya!

Dampak Buruk Pertengkaran di Depan Anak

Suasana rumah yang penuh kehangatan menjadi kebutuhan penting bagi tumbuh kembang emosional anak. Namun sayangnya, beberapa orang tua tanpa sadar memperlihatkan konflik secara terbuka. Meskipun niatnya bukan untuk melukai, pertengkaran orang tua di depan anak bisa membawa dampak yang tidak ringan.

Berikut lima alasan mengapa bertengkar di hadapan anak sebaiknya dihindari:

1. Anak Belum Mampu Memahami Konflik Dewasa

Pada usia dini, anak belum memiliki kemampuan berpikir yang matang untuk memisahkan perbedaan pendapat yang sehat dari pertengkaran orang tua yang emosional. Mereka cenderung melihat konflik sebagai ancaman, bukan sebagai hal yang bisa diselesaikan.

Saat melihat orang tuanya berselisih, anak bisa merasa tidak aman dan sering kali menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi. Perasaan inilah yang bisa tertanam dalam memori emosional mereka jika terus terjadi.

2. Bisa Menimbulkan Stres dan Kecemasan

Anak yang berulang kali menyaksikan pertengkaran akan merasa tertekan, bahkan tanpa mereka tahu bagaimana mengungkapkannya. Hal ini bisa memicu keluhan fisik seperti sulit tidur, sakit perut, atau sakit kepala karena beban emosi yang mereka simpan.

Penelitian dari Journal of Family Psychology (Cummings & Davies, 2010) membuktikan bahwa konflik orang tua berhubungan langsung dengan peningkatan kecemasan anak. Ini menjadi alarm penting bagi orang tua untuk lebih menjaga suasana rumah tetap kondusif.

3. Menggoyahkan Rasa Aman dan Stabilitas Emosi Anak

Rumah seharusnya menjadi tempat paling nyaman dan terlindung bagi anak. Tapi jika yang anak saksikan justru teriakan atau saling menyalahkan antar orang tua, ia akan merasa bingung dan tidak tenang.

Akibatnya, ikatan emosional antara anak dan orang tua bisa melemah. Anak tidak lagi merasa bahwa rumah adalah tempat untuk beristirahat secara emosional, melainkan tempat yang membuatnya tegang dan waspada.

4. Berdampak pada Kemampuan Sosial dan Relasi Anak

Lingkungan rumah yang penuh dengan konflik bisa menghambat anak dalam membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Mereka mungkin tumbuh menjadi pribadi yang mudah marah, menutup diri, atau merasa sulit percaya kepada orang lain.

Pola komunikasi yang buruk di rumah menjadi contoh nyata yang akan mereka bawa ke lingkungan sekolah dan pergaulan. Tanpa disadari, pola konflik di rumah akan tercermin dalam hubungan sosial anak nantinya.

5. Memberi Contoh yang Keliru dalam Menyelesaikan Masalah

Anak belajar banyak dari apa yang ia lihat, terutama dalam hal menyikapi situasi sulit. Jika yang sering ia lihat adalah pertengkaran sebagai cara menyelesaikan masalah, maka ia akan meniru itu di masa depan.

Alih-alih belajar berdiskusi dengan tenang, anak akan menganggap bahwa emosi dan bentakan adalah hal biasa. Ini bisa terbawa sampai remaja bahkan dewasa, dan memengaruhi cara mereka membangun relasi dengan orang lain.

Langkah Mengatasi Dampak Emosional Anak Setelah Melihat Pertengkaran Orang Tua

Jika anak telah menyaksikan pertengkaran antara orang tuanya, penting untuk segera mengambil langkah yang menenangkan. Respons yang lembut dan penuh empati akan sangat membantu memulihkan rasa aman dan stabilitas emosional anak.

Berikut adalah lima cara yang bisa dilakukan orang tua untuk mendampingi anak melewati pengalaman emosional yang mengganggu:

1. Tenangkan Anak dan Akui Perasaannya

Langkah awal yang penting adalah meyakinkan anak bahwa ia tidak bersalah atas apa yang terjadi. Gunakan kata-kata sederhana seperti, “Maaf kamu melihat tadi. Itu bukan salahmu, Ayah dan Ibu hanya berbeda pendapat.”

Selaras dengan penjelasan ahli psikologi Dr. Irfan Aulia M.Psi, yang menjelaskan kepada anak bahwa Anda dalam kondisi yang kurang baik. Anda juga perlu memberikan contoh, misalnya meminta maaf kepada pasangan Anda di hadapan anak. 

Pernyataan seperti ini membantu mencegah anak menyalahkan diri sendiri. Validasi perasaannya juga memberi ruang agar ia merasa dipahami dan tidak sendirian menghadapi kebingungan emosionalnya.

2. Ajak Bicara dengan Bahasa yang Ramah Usia

Setelah suasana kembali tenang, ajak anak berbincang menggunakan bahasa yang sesuai usianya. Jelaskan bahwa perbedaan pendapat itu wajar dan bisa terjadi antara siapa pun, termasuk orang tua.

Sampaikan bahwa pertengkaran tidak mengurangi kasih sayang orang tua kepadanya. Dengan penjelasan yang tenang, anak akan merasa tetap dicintai dan yakin bahwa keluarganya baik-baik saja.

3. Perlihatkan Proses Damai dan Saling Memaafkan

Jika anak telah melihat konflik, maka penting juga bagi mereka untuk melihat penyelesaiannya. Tunjukkan bahwa orang tua bisa saling memaafkan dan menyelesaikan masalah dengan cara yang sehat.

Momen rekonsiliasi ini menjadi pembelajaran penting bagi anak, bahwa konflik bukan akhir dari hubungan, dan bahwa kedamaian bisa dicapai melalui komunikasi, bukan pertengkaran.

4. Perkuat Koneksi Emosional Lewat Aktivitas Bersama

Setelah situasi mereda, luangkan waktu berkualitas bersama anak. Aktivitas sederhana seperti bermain board game, memasak bersama, atau membaca buku dapat membangun kembali rasa aman yang mungkin sempat terganggu.

Kedekatan ini akan menenangkan hati anak dan memperkuat ikatan emosional yang mungkin melemah akibat suasana tegang sebelumnya. Anak pun akan merasa bahwa keluarganya tetap menjadi tempat yang nyaman.

5. Cari Dukungan Profesional Jika Gejala Berlanjut

Jika anak menunjukkan tanda-tanda stres yang menetap seperti sulit tidur, sering menangis, atau menjauhi orang lain maka tak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog anak.

Terapi keluarga atau konseling bisa membantu seluruh anggota keluarga memahami dampaknya dan belajar membangun komunikasi yang lebih sehat. Dengan bantuan ahli, proses pemulihan bisa berjalan lebih terarah.

Kesimpulan 

Pertengkaran mungkin bagian dari dinamika rumah tangga, namun ketika anak melihat pertengkaran orang tua, situasinya menjadi jauh lebih kompleks. Anak bukan sekadar penonton, tapi penyerap emosi yang sensitif. 

Mereka merekam peristiwa itu dalam benak mereka, dan bisa membawa dampaknya hingga masa dewasa jika tidak ditangani dengan tepat.

Sebagai orang tua, kunci utamanya adalah menyadari bahwa emosi dan dinamika rumah tangga sangat berpengaruh pada pembentukan karakter dan kesehatan mental anak. Maka, bila pertengkaran tak bisa dihindari, minimal jangan dilakukan di depan anak. 

Namun bila sudah terjadi, beranikan diri untuk meminta maaf, menjelaskan dengan hangat, dan membimbing anak memahami bahwa konflik bukanlah ancaman, melainkan tantangan yang bisa diatasi bersama.

Dengan kehadiran yang hangat, komunikasi yang terbuka, dan lingkungan rumah yang penuh kasih, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, stabil secara emosi, dan mampu menghadapi dinamika kehidupan dengan bijak.

Reference 

Diana Divecha, Ph.D. What Happens to Children When Parents Fight. Developmental Science. Diakses pada 2025. 

Leave A Comment:

Your email address will not be published. Required fields are marked *