Lembaga Pendidikan Montessori Islam

Bahayanya Mengajarkan Toilet Training Pada Anak Terlalu Dini

toilet training
February 19, 2025

Bunda tahukah Anda, bahwa mengajarkan anak toilet training terlalu dini bukan merupakan keputusan yang tepat loh. Alih-alih membantu anak untuk mandiri, toilet training yang terlalu dini justru dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan masalah kesehatan pada anak. Oleh karena itu, penting bagi para orang tua untuk memahami kapan sebenarnya anak siap untuk menjalani toilet training pada anak.

Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai bahaya toilet training yang terlalu dini bagi anak. Kami akan mengulas berbagai dampak negatif yang mungkin timbul, baik dari segi fisik maupun psikologis anak. 

Selain itu, kami juga akan memberikan panduan mengenai tanda-tanda kesiapan anak untuk toilet training serta tips untuk menjalani proses ini dengan sabar dan positif. 

Bahaya Toilet Training Bagi Anak 

Melatih anak untuk menggunakan toilet memerlukan waktu yang berbeda-beda untuk setiap anak. Banyak orang tua ingin memulai toilet training sedini mungkin untuk memberi waktu bagi anak agar bisa beradaptasi. Namun, menurut sebuah penelitian, memulai toilet training terlalu dini justru bisa berbahaya bagi si kecil. Bahaya tersebut antara lain:

Misalnya dalam sebuah penelitian yang dilansir dari Huffpost oleh Dr. Steve Hodges, profesor dari Wake Forest University North Carolina, menyebutkan bahwa anak-anak yang terlalu dini diajarkan toilet training berisiko mengalami gangguan kandung kemih. 

Saat pertama kali diajarkan menggunakan toilet sendiri, anak memerlukan waktu untuk memahami cara merespons kebutuhan tubuh untuk buang air besar dan kecil dengan baik. Selama masa pembelajaran ini, anak lebih sering menahan keinginan untuk berkemih, yang menyebabkan otot kandung kemih menebal. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan anak sulit mengontrol buang air kecil.

Infeksi saluran kemih, membiasakan toilet training yang terlalu dini juga dapat menyebabkan infeksi saluran kemih. Ketika anak jarang buang air kecil (BAK), bakteri penyebab infeksi dapat naik ke kandung kemih. Demikian pula, ketika anak jarang buang air besar (BAB), bakteri dari feses bisa naik melalui rektum masuk ke vagina dan akhirnya ke saluran kemih.

Dr Steve menjelaskan bahwa membiasakan anak pada kebiasaan toilet training sejak awal bisa menyebabkan anak mengalami masalah yang cukup serius. Dalam pernyataan salah satu responden di Daily ekspress ia menyebutkan bahwa ia melakukan hal tersebut untuk memudahkan dirinya tidak terusik dengan kebiasaan BAK anak. 

Sayangnya, anak dengan kebiasaan menunda buang air kecil mereka bisa melakukannya sesering mungkin dan ini bisa berakibat buruk bagi anak. Anak-anak belum memiliki kekuatan bagian otot paha untuk menahan hasrat buang air kecil tidak sama seperti orang dewasa. 

Jadi ketika, kebiasaan itu terus dilakukan maka, otot hamstring pada kandung kemih akan semakin tebal. Pada sejatinya otot ini seharusnya kecil dan dan hanya mampu menahan air kencing dalam beberapa menit saja, namun karena pembelajaran toilet training yang tidak benar maka kekuatan otot hamstring ini akan terganggu. 

Sama halnya dengan BAK, menurut Dr Steve, menahan BAB juga memiliki dampak yang sangat fatal pada anak. Massa BAB pada anak yang seharusnya dikeluarkan semestinya justru harus ditahan dan hal ini bisa mengakibatkan kandung kemih mudah teriritasi. 

Selain itu, menahan BAB untuk anak juga beresiko bagi dirinya mengalami sembelit. Maka perhatikan jika si kecil jadi sering sembelit, sebab bisa jadi hal ini datang karena kebiasaan toilet training yang tidak tepat.  

Kapan Idealnya Anak Bisa Toilet Training Bagi Anak 

Lantas, kapan idealnya seorang anak boleh diajarkan tentang toilet training? Nah, bunda simak penjelasan berikut ini untuk informasi selengkapnya mengenai waktu ideal membiasakan toilet training. 

Menurut Dr. Steve, melatih anak menggunakan toilet pada usia 2 tahun dapat berisiko karena anak mungkin akan menahan keinginan buang air akibat belum memahami pentingnya kebutuhan tersebut. Selain itu, perkembangan saluran kemih anak baru akan sempurna pada usia 3-4 tahun. Oleh karena itu, para ahli menyatakan bahwa penggunaan popok pada usia tersebut masih diperbolehkan. Namun, jika orang tua ingin memulai toilet training lebih awal, mereka harus lebih cermat dalam mengamati apakah anak menahan buang air atau tidak serta kondisi feses si kecil. 

Selain memperhatikan usia, orang tua juga perlu melihat tanda-tanda kesiapan anak untuk toilet training, seperti anak mulai merasa tidak nyaman dengan popok yang kotor atau penuh, bisa melepas celananya sendiri, dan mampu melaporkan saat ingin buang air.

Manfaat Toilet Training di Usia yang Tepat 

Meski begitu, bunda tetap perlu mengajarkan toilet training sesuai dengan usia anak yang tepat. Anda sejumlah tanda yang menunjukkan anak siap untuk melakukan toilet training. 

Merasa Tidak Nyaman dengan Popok yang Kotor

Ketidaknyamanan terhadap popok yang kotor adalah tanda penting bahwa anak mulai menyadari sensasi tubuh mereka. Menurut jurnal “Early Child Development and Care”, perkembangan ini menunjukkan bahwa anak telah mencapai tahap kesadaran tubuh yang lebih tinggi, yang memungkinkan mereka untuk merasakan ketidaknyamanan dan meresponsnya.

Ini juga mencerminkan peningkatan dalam sensitivitas sensorik dan pemrosesan sensorik, yang penting untuk perkembangan selanjutnya.

Popok Kering Selama Dua Jam atau Lebih

Menurut “Journal of Pediatric Urology”, popok yang tetap kering selama dua jam atau lebih menunjukkan bahwa anak mulai mengembangkan kontrol yang lebih baik terhadap kandung kemih mereka. 

Perkembangan ini mencerminkan peningkatan dalam kapasitas kandung kemih dan kemampuan anak untuk menahan buang air kecil, yang merupakan prasyarat penting untuk toilet training yang sukses.

Jadwal Buang Air Lebih Teratur

Jadwal buang air yang lebih teratur menandakan bahwa sistem pencernaan dan kemih anak mulai berfungsi dengan lebih efisien. Menurut “Pediatric Nephrology”, keteraturan ini menunjukkan bahwa anak sudah mulai mengembangkan ritme sirkadian yang lebih baik, yang mengatur siklus tidur-bangun dan fungsi tubuh lainnya. 

Keteraturan dalam buang air juga membantu dalam memprediksi kapan anak perlu buang air, yang penting dalam proses toilet training.

Sudah Bisa Melepas dan Memakai Kembali Celana Sendiri Tanpa Perlu Dibantu

Kemampuan untuk melepas dan memakai kembali celana sendiri menunjukkan perkembangan motorik halus dan keterampilan kemandirian. Menurut jurnal “Developmental Medicine & Child Neurology”, keterampilan ini mencerminkan peningkatan dalam koordinasi tangan-mata, kekuatan otot, dan ketangkasan jari. 

Kemampuan ini juga menandakan bahwa anak siap untuk mengambil tanggung jawab lebih besar dalam hal perawatan diri, termasuk toilet training.

Mulai Penasaran dengan Kegunaan Toilet

Rasa penasaran terhadap kegunaan toilet menunjukkan peningkatan dalam perkembangan kognitif dan sosial anak. Menurut “Journal of Child Psychology and Psychiatry”, rasa ingin tahu ini mencerminkan kemampuan anak untuk mengamati dan meniru perilaku orang dewasa. 

Ini juga menunjukkan bahwa anak mulai memahami konsep fungsi dan tujuan objek, yang penting untuk pembelajaran sosial dan perilaku yang sesuai.

Terdapat Keinginan untuk Diajari Cara Menggunakan Toilet

Keinginan untuk diajari menggunakan toilet menunjukkan motivasi intrinsik dan kesiapan emosional anak untuk belajar keterampilan baru.

Menurut “Child Development Journal”, motivasi ini mencerminkan perkembangan rasa percaya diri dan keinginan untuk mandiri. Anak yang termotivasi untuk belajar biasanya lebih mudah menerima petunjuk dan lebih cepat dalam menguasai keterampilan baru.

Sadar Ketika Ingin Buang Air

Kesadaran saat ingin buang air adalah indikator penting bahwa anak memiliki kontrol sensorik dan motorik yang baik. Menurut “Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition”, kesadaran ini menandakan bahwa anak dapat mengidentifikasi sinyal tubuh mereka dan meresponsnya dengan tepat. 

Ini juga menunjukkan bahwa anak memiliki koneksi yang baik antara sistem saraf pusat dan organ tubuh yang terlibat dalam buang air.

Jadi bunda, pastikan bahwa anak memiliki kesiapan untuk memulai toilet trainingnya yang benar. Pastikan tidak terlalu cepat sehingga anak tidak mengalami masalah kesehatan lainnya. 

Reference: 

Jurnal Huffpost. Diakses pada 2025. A Doctor Responds: Don’t Potty Train Your Baby article by Dr Steve Hodges 

Mayo Clinic. Diakses pada 2025. Potty training: How to get the job done

Kids Health. Diakses pada 2025. Soiling (Encopresis).

Mayo Clinic. Diakses pada 2025. Encopresis.

What To Expect. Diakses pada 2025. Tips on Starting Potty Training.

National Health Service. Diakses pada 2025. How to potty train.

Leave A Comment:

Your email address will not be published. Required fields are marked *