Penyebab Self Harm Pada Anak yang Perlu Dikenali, Simak Tandanya
Bunda, kenali tanda self harm pada anak bilamana ia mulai menunjukkan perilaku untuk melukai dirinya sendiri. Pada anak-anak, penyebab self harm dapat sangat kompleks dan bervariasi.
Biasanya self harm dilakukan oleh anak remaja yang mulai perlahan mencari identitas dirinya. Dalam sejumlah pemberitaan saat ini, anak remaja banyak yang mengalami perilaku tersebut sebab trauma yang dimilikinya.
Untuk mengenali tanda-tanda self harm pada anak, orang tua dan pengasuh perlu memperhatikan perubahan perilaku dan kebiasaan anak. Tanda-tanda yang umum termasuk luka yang tidak dapat dijelaskan, goresan, atau memar di tubuh anak yang sering terjadi berulang kali.
Selain itu, anak mungkin menunjukkan tanda-tanda emosional seperti kesedihan yang mendalam, menarik diri dari keluarga dan teman, atau perubahan drastis dalam suasana hati. Memahami dan mengenali tanda-tanda ini penting agar orang tua dapat segera memberikan dukungan dan bantuan yang diperlukan.
Apa Itu Self Harm Pada Anak?
Self-harm merupakan tindakan di mana seseorang menyakiti atau melukai dirinya sendiri. Biasanya, self-harm dilakukan dengan menggunakan benda tajam atau tumpul yang ada di sekitarnya.
Selain itu, self-harm juga bisa berupa tindakan menyakiti diri sendiri secara langsung, seperti menarik rambut, memukul diri sendiri, dan lainnya. Perilaku self-harm ini dilakukan secara sengaja oleh individu yang melakukannya dan bertujuan untuk mendapatkan kepuasan pribadi.
Menurut Journal of Child Psychology and Psychiatry, terdapat bukti bahwa melihat gambar-gambar yang menunjukkan tindakan self-harm dapat memiliki dampak negatif.
Dampak tersebut termasuk meningkatnya kecenderungan untuk melakukan self-harm, munculnya dorongan untuk melukai diri sendiri, serta terbentuknya koneksi dengan orang lain yang juga melakukan self-harm.
Namun, ada beberapa faktor penyebab yang umum lainnya meliputi tekanan emosional, rasa tidak berharga, pengalaman traumatik, atau gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan yang bisa memicu adanya self harm.
Anak-anak mungkin merasa kewalahan oleh masalah yang mereka hadapi dan tidak tahu cara lain untuk mengatasinya, sehingga beralih ke perilaku self-harm sebagai bentuk pelarian atau pelepasan.
Penyebab Self Harm Pada Anak

Sama halnya dengan orang dewasa, anak yang berniat melakukan self harm juga dilingkupi dengan perasaan tidak nyaman sehingga ada pemicu yang membuat anak tergerak untuk menyakiti dirinya sendiri.
Riwayat Trauma pada Anak
Anak dengan riwayat trauma psikologis lebih rentan mencoba untuk melukai diri sendiri. Kondisi ini dapat muncul akibat kehilangan orang yang dicintai atau mengalami kekerasan fisik, emosional, hingga seksual.
Situasi ini bisa membuat seseorang merasa kosong dan rendah diri, sehingga mencari pelampiasan dengan cara menyakiti tubuhnya sendiri.
Faktor Emosional
Dalam proses tumbuh kembangnya, anak balita akan mulai menjelajahi lingkungan sekitar dan belajar mengkomunikasikan keinginan serta kebutuhannya secara bertahap. Namun, kemampuan anak dalam mengungkapkan keinginan dan kebutuhannya ini masih sangat terbatas.
Oleh karena itu, kondisi ini sering kali membuat anak mengalami tantrum hingga menyakiti dirinya sendiri sebagai cara untuk mengekspresikan perasaan dan keinginannya.
Merasa Tidak Nyaman dengan Kondisi Fisiknya
Salah satu penyebab anak sering menyakiti diri sendiri adalah ketidaknyamanan dengan kondisi fisiknya. Misalnya, anak mungkin akan membenturkan kepala saat mengalami otitis media (infeksi telinga tengah) atau menggigit tangannya dengan agresif untuk mengurangi rasa sakit pada gusi akibat pertumbuhan gigi.
Gangguan Autisme
Jika anak cenderung menyakiti diri sendiri, seperti memukul, menggaruk secara agresif, atau menggigit diri sendiri tanpa alasan yang jelas, hal ini bisa menjadi indikasi dari gejala autisme, yaitu kelainan fungsi otak dan saraf yang dapat mempengaruhi perkembangan anak.
Anak dengan gangguan autisme juga kesulitan kemampuan sosial, komunikasi, dan perilaku. Anak dengan gangguan ini biasanya merasa bahwa tindakan self-harm dapat membantu menenangkan diri mereka.
Tekanan Eksternal
Pada anak remaja, self-harm juga bisa dipicu oleh tekanan eksternal atau trauma, seperti bullying atau pelecehan seksual yang dapat menyebabkan stres berat hingga depresi. Penting untuk sering berbicara dan terbuka dengan anak agar dapat segera mengambil tindakan yang tepat jika anak mengalami tekanan eksternal.
Cara Mengatasi Self Harm Pada Anak
Pada dasarnya anak menyakiti dirinya sendiri tergantung dari caranya menyakiti dirinya sendiri. Anda perlu mengetahui tingkat menyakiti dirinya anak sendiri. Jika sejumlah upaya bisa dilakukan Anda perlu melakukan hal-hal berikut ini:
Meminta Pertolongan Allah ﷻ
Bunda, jangan lupa untuk selalu melibatkan Allah ﷻ dalam menghadapi kondisi anak. Proses dalam mengenal dan membesarkan anak merupakan proses yang tidak mudah. Maka meminta tolonglah kita kepada Allah ﷻ.
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ ٥
iyyâka na‘budu wa iyyâka nasta‘în
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.
Doakan si kecil untuk selalu dalam keadaan sehat sehingga bunda dan ayah bisa saling menjaganya dengan baik.
Memberikan Bantuan
Ikhsan Bella Persada M.Psi, seorang psikolog menjelaskan bahwa self-harm merupakan cara anak menghadapi stres yang tidak tepat. Anak yang kesulitan mengekspresikan emosi negatif mungkin beralih ke cara self-harm sebagai bentuk pelampiasan.
Jika anak sering menyakiti diri sendiri saat marah, seperti menjambak rambut atau memukul diri sendiri, segera hentikan tindakan tersebut dengan menahan atau menghalangi tangan anak. Jika perlu, berikan pelukan untuk menenangkan dan meredakan rasa frustrasinya.
Dukungan keluarga dan terapi dapat membantu untuk keinginan mereka melakukan self harm. Banyak kasus anak di Indonesia yang berhasil mendapatkan penanganan karena kemampuan orang tua untuk melakukan dukungan self harm.
Menciptakan Suasana yang Aman dan Nyaman untuk Anak
Dr Markham psikolog klinis yang menulis buku Peaceful Parent Happy Kids menekankan bahwa lingkungan yang aman dan nyaman dapat membantu anak-anak merasa aman dan dihargai. Ini penting untuk perkembangan emosional dan kognitif mereka.
Salah satu cara penting untuk mengatasi anak yang suka menyakiti diri sendiri saat marah adalah dengan menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Misalnya, gunakan wallpaper yang empuk untuk meminimalkan risiko cedera jika anak membenturkan kepalanya ke dinding. Jauhkan juga barang-barang yang dapat digunakan anak untuk menyakiti dirinya sendiri.
Dalam psikologi anak dengan suasana yang nyaman dan aman berpotensi tumbuh lebih baik dibandingkan dengan anak yang tumbuh dengan kecaman dan perasaan kurang menyenangkan.
Menjalin Komunikasi dengan Anak
Studi menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki komunikasi yang baik antara orang tua dan anak cenderung rendah terhadap berinteraksi dengan teman sebayanya. Anak-anak ini juga mampu menghadapi masalah emosional dengan baik bila dibandingkan lainnya.
Cara untuk meredakan self harm ini bisa dengan menjalin komunikasi yang baik dengan anak. Penting bagi orang tua untuk selalu mendampingi dan memberikan afirmasi positif sebagai upaya mengalihkan perasaan frustasi anak. Selain itu, saat anak sedang tantrum, berikan mainan yang aman seperti boneka atau bantal.
Dr John Gottman menyatakan bahwa komunikasi efektif akan hadir dari pengembangan keterampilan orang tua dan anak untuk sama-sama mampu mengkomunikasikan hal tersebut.
Penting juga bagi orang tua untuk tidak menyalahkan anak atas tindakannya. Sebaiknya, berikan edukasi mengenai cara mengontrol dan mengekspresikan emosi dengan benar.
Mengajak Anak Bercerita
Jika self-harm terjadi pada anak remaja, ajak anak untuk bercerita. Pastikan untuk tidak memaksa dan dengarkan cerita anak tanpa menghakimi, sehingga anak merasa nyaman dengan kehadiran orang tua. Hal ini bertujuan untuk mencari tahu penyebab anak menyakiti diri sendiri dan menemukan solusi yang tepat.
Program intervensi psikologis yang menggunakan cerita sebagai bagian dari terapi telah terbukti efektif dalam meningkatkan kesejahteraan anak-anak. Hal ini sudah banyak digunakan oleh sejumlah psikolog dalam meningkatkan rasa bahagia pada anak.
Menemui Dokter atau Psikolog
Pada dasarnya, mengatasi anak yang suka menyakiti diri sendiri membutuhkan waktu. Namun, untuk mengoptimalkan penanganan, orang tua dapat mengajak anak berkonsultasi dengan dokter atau psikolog untuk mendapatkan perawatan yang sesuai dengan penyebab kebiasaan tersebut.
Itulah sejumlah informasi mengenai penyebab self harm hingga tanda dan cara mengatasinya. Apabila bunda mulai menemukan kecurigaan mengenai perilaku anak yang berbahaya segera pertemukan dengan tenaga profesional.
Jangan khawatir untuk menemui tenaga profesional ya Bunda, kenali sejak dini apa yang harus dilakukan untuk mengurangi keinginan self harm pada anak.




