Anak Lebih Suka Bermain Saat Mengaji? Simak Tantangan Anak Belajar Mengaji dan Solusinya
Ayah dan Bunda, salah satu tantangan anak belajar mengaji yakni melihat anak lebih suka bermain saat mengaji daripada fokus pada bacaannya adalah realitas yang dihadapi banyak orang tua. Hal ini wajar, sebab naluri alami anak usia dini adalah bergerak dan bereksplorasi.
Mengaji yang disajikan secara kaku atau monoton sering dianggap sebagai aktivitas yang bertentangan dengan kebutuhan mereka akan kegembiraan. Tugas kita adalah memahami kondisi anak dan cara terbaik untuk bisa bermain saat mengaji, bukan bentuk penolakan. Jika kita merespons dengan tekanan, minat mereka terhadap Al-Qur’an justru akan luntur.
Artikel ini hadir untuk mengupas tuntas tantangan ini dan memberikan solusinya. Kita akan membahas tips praktis untuk mengintegrasikan elemen bermain, gerak, dan interaktivitas ke dalam sesi mengaji, menjadikannya kegiatan yang dinantikan, bukan dihindari. Yuk, simak ulasan selengkapnya!
Alasan Anak Lebih Suka Bermain Dibandingkan Belajar
Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak sejak dini adalah salah satu tanggung jawab mulia orang tua. Namun, sering kali muncul tantangan anak belajar mengaji, terutama ketika mereka lebih memilih bermain dibandingkan duduk membaca huruf hijaiyah. Kondisi ini wajar terjadi karena anak usia dini berada dalam fase perkembangan yang penuh rasa ingin tahu dan energi. Anak usia prasekolah lebih mudah fokus pada aktivitas bermain karena otak mereka sedang berkembang pesat dalam aspek motorik dan sosial.
Faktor Usia dan Perkembangan

Anak usia dini, khususnya 3-7 tahun, berada dalam fase golden age di mana bermain adalah cara utama mereka belajar. Bermain bukan sekadar hiburan, tetapi sarana eksplorasi dunia sekitar. Tantangan anak belajar mengaji ini bisa sangat berpengaruh pada minat anak selama belajar. Oleh karena itu, ketika diajak mengaji, anak sering kali lebih tertarik pada permainan yang menurut mereka lebih menyenangkan.
Anak usia dini memiliki kecenderungan belajar melalui aktivitas yang melibatkan gerakan, warna, dan suara. Jika mengaji tidak dikemas dengan cara menarik, anak akan lebih memilih bermain. Inilah salah satu tantangan anak belajar mengaji yang perlu dipahami orang tua.
Konsentrasi yang Masih Pendek
Rentang konsentrasi anak usia dini relatif singkat, rata-rata hanya 10-15 menit. Setelah itu, mereka mudah terdistraksi oleh hal-hal di sekitar, seperti mainan, suara televisi, atau aktivitas lain. Tantangan anak belajar mengaji dari segi waktu ini akan berpengaruh pada kemampuan anak menjaga konsentrasi belajar mengaji.
Anak prasekolah membutuhkan metode belajar variatif agar tetap fokus. Jika mengaji dilakukan terlalu lama tanpa jeda, anak akan kehilangan minat dan lebih memilih bermain.
Lingkungan Belajar yang Kurang Mendukung
Lingkungan rumah yang ramai, suara gawai, atau televisi sering kali membuat anak sulit berkonsentrasi. Distraksi ini membuat anak lebih memilih aktivitas lain dibandingkan mengaji.
Lingkungan belajar yang kondusif sangat berpengaruh terhadap fokus anak. Tanpa suasana tenang, anak akan sulit mempertahankan perhatian saat mengaji.
Kurangnya Motivasi dan Apresiasi

Anak membutuhkan dorongan emosional agar tetap semangat. Jika orang tua hanya menekankan kesalahan tanpa memberikan apresiasi, anak bisa merasa tidak dihargai. Akibatnya, mereka enggan melanjutkan belajar dan lebih memilih bermain.
Apresiasi sederhana seperti pujian atau pelukan dapat meningkatkan motivasi anak. Tanpa motivasi, tantangan anak belajar mengaji semakin besar karena mereka merasa aktivitas tersebut tidak menyenangkan.
Solusi Menjadikan Anak Bermain sebagai Bagian dari Belajar
Bermain adalah kebutuhan dasar anak. Bermain membantu anak mengembangkan keterampilan sosial, motorik, dan kognitif. Jika mengaji tidak dikaitkan dengan aktivitas bermain, anak akan lebih memilih permainan yang sesuai dengan dunia mereka.
Oleh karena itu, orang tua perlu memahami bahwa bermain bukanlah penghalang, melainkan sarana yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung proses mengaji.
1. Menghubungkan Membaca Al-Qur’an dengan Kehidupan Nyata

Anak akan lebih mudah memahami huruf hijaiyah jika dikaitkan dengan hal-hal yang mereka temui sehari-hari. Misalnya, huruf “Ba” bisa dikaitkan dengan kata Buku, huruf “Ta” dengan Tas, atau huruf “Jim” dengan Jalan. Dengan menghubungkan huruf hijaiyah pada benda nyata, anak merasa huruf itu bukan sesuatu yang abstrak, melainkan bagian dari dunia mereka.
Metode ini membantu anak membangun asosiasi kuat antara huruf dan pengalaman sehari-hari. Selain menghafal, mereka juga belajar bahwa huruf hijaiyah memiliki makna dan relevansi dalam kehidupan.
2. Teknik Chunking (Belajar Bertahap)

Alih-alih langsung mengenalkan semua huruf hijaiyah, orang tua bisa menggunakan teknik chunking, yaitu membagi huruf ke dalam kelompok kecil. Misalnya, minggu pertama fokus pada huruf Alif sampai Jim, minggu kedua pada huruf berikutnya, dan seterusnya.
Dengan belajar bertahap, anak tidak merasa kewalahan. Mereka bisa menguasai sedikit demi sedikit, lalu menggabungkannya menjadi satu kesatuan. Teknik ini terbukti efektif dalam meningkatkan daya ingat jangka panjang.
3. Pendekatan dengan Kreativitas
Mengaji dengan menggunakan berbagai pendekatan kreatif seperti media edukatif yang bergerak, animasi yang menyenangkan dan masih banyak lagi. Anak bisa membiasakan diri mengaji dengan berbagai pendekatan yang menyenangkan untuk membantu meningkatkan minat membaca Al-Qur’an.
Selain melatih kreativitas, seni juga membantu anak membangun keterikatan emosional dengan huruf. Mereka tidak hanya menghafal, tetapi juga merasa bangga dengan karya yang dihasilkan.
4. Meningkatkan Keimanan Anak Sejak Dini

Mengaji bukan hanya soal hafalan, tetapi juga soal makna. Orang tua bisa menanamkan nilai bahwa huruf hijaiyah adalah pintu menuju Al-Qur’an, kitab suci yang menjadi pedoman hidup. Dengan menumbuhkan rasa cinta dan penghormatan terhadap Al-Qur’an, anak akan lebih termotivasi untuk belajar.
Pendekatan ini membuat anak melihat mengaji bukan sekadar tugas, tetapi ibadah yang membawa kedekatan dengan Allah. Spiritualitas yang ditanam sejak dini akan menjadi fondasi kuat dalam perjalanan belajar mereka.
Belajar Mengaji Anak Menjadi Menyenangkan Bersama TPQ Online Albata
Tantangan anak belajar mengaji sering muncul karena faktor usia, konsentrasi yang pendek, lingkungan belajar yang kurang mendukung hingga minimnya motivasi anak yang belajar. Maka dari itu, Bunda harus menemukan cara terbaik untuk membantu meningkatkan minat belajar anak dalam mengaji.
Misalnya, Bunda bisa mulai menjadwal singkat namun konsisten, dengan pendekatan mengaji menyenangkan menggunakan permainan, hingga menghubungkan membaca dengan kegiatan sehari-hari agar anak terbiasa.
TPQ Online Albata menawarkan kesempatan belajar mengaji anak mulai dari usia 3 hingga 13 tahun. Dengan menggunakan metode Fun Learning yang interaktif, anak-anak dapat mempelajari Al-Qur’an dengan cara yang menarik dan mudah dipahami baik untuk anak dalam negeri maupun luar negeri.
Bersama dengan ustadzah profesional, TPQ Online Albata siap untuk menemani anak belajar mengaji sampai bisa. Yuk, segera daftarkan putra-putri Anda di TPQ Albata Online dan saksikan mereka tumbuh menjadi generasi Qurani yang cerdas dan berakhlak mulia.
Karena kuota terbatas, segera kunjungi tautan dibawah ini untuk informasi lebih lanjut, atau Anda dapat mencari tahu lebih banyak melalui akun Instagram Albata di Albata.id.





