6 Masalah Perilaku Anak di Usia Prasekolah dan Cara Mengatasinya
Ayah dan Bunda, fase usia prasekolah (sekitar 3-5 tahun) adalah masa emas perkembangan, tetapi juga penuh tantangan. Di usia ini, anak sedang belajar mengelola emosi besar dan memahami aturan sosial, yang seringkali memicu masalah perilaku anak seperti tantrum, menolak berbagi, atau menjadi agresif.
Sebagai orang tua, kita perlu menyadari bahwa perilaku ini adalah bentuk komunikasi dari anak yang belum memiliki kemampuan bahasa yang matang. Bunda harus memahami cara mengatasi masalah perilaku anak dengan cara yang bijak dan konsisten.
Artikel ini hadir untuk membantu Ayah dan Bunda memahami dan merespons tantangan tersebut. Kami telah merangkum enam masalah perilaku anak yang bisa saja terjadi pada anak dan solusi positif parenting untuk mengarahkan perilaku anak ke arah yang lebih baik. Yuk, simak ulasan selengkapnya!
6 Masalah Perilaku Anak Prasekolah
Usia prasekolah tentu berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Pada fase ini, anak mulai menunjukkan berbagai bentuk perilaku anak yang kadang membuat orang tua bingung, seperti tantrum, sulit berbagi, atau menolak aturan.
Perilaku anak di usia prasekolah merupakan bagian dari proses belajar mengendalikan emosi dan memahami lingkungan sosial. Oleh karena itu, orang tua perlu memahami penyebabnya dan mencari cara bijak untuk mengatasinya.
1. Anak Sering Memotong Pembicaraan Orang Tua

Saat anak sangat bersemangat bercerita atau ingin bertanya sesuatu, mereka kadang langsung memotong pembicaraan kita. Namun jika ini dibiarkan, anak tidak belajar menghargai orang lain atau menunggu dengan sabar ketika orang tua sedang sibuk. Psikolog Jerry Wyckoff, Ph.D., menyebutkan bahwa kebiasaan ini bisa membuat anak merasa selalu berhak mendapat perhatian orang lain dan kesulitan menghadapi frustasi.
Untuk mencegahnya, beri tahu anak terlebih dahulu ketika kamu akan menelpon atau berbincang dengan teman. Misalnya:
“Sebentar lagi Ibu akan telepon. Selama Ibu bicara, Ibu tidak bisa menemani atau menjawab pertanyaan dulu ya. Yuk siapkan krayon supaya kamu bisa mewarnai sambil menunggu Ibu selesai.”
2. Bermain Terlalu Kasar
Memukul teman bermain jelas harus dihentikan. Namun tindakan agresif kecil seperti mendorong kakak atau mencubit teman juga perlu segera ditangani. Hal-hal kecil seperti ini bisa berkembang menjadi kebiasaan buruk.
Menurut Michele Borba, EdD, jika orang tua tidak segera bertindak, perilaku kasar bisa jadi kebiasaan kuat saat anak menginjak usia 8 tahun. Selain itu, anak bisa menganggap menyakiti orang lain adalah hal yang biasa.
3. Berpura-pura Tidak Mendengar
Saat anak pura-pura tidak mendengar instruksi, misalnya disuruh masuk mobil atau membereskan mainan lalu orang tua mengulanginya berkali-kali, anak akan belajar bahwa mengabaikan itu tidak apa-apa. Bahkan mereka merasa berkuasa karena orang tua tetap mengikuti keinginannya.
Psikolog Kevin Leman, PhD, mengatakan bahwa mengingatkan anak berulang kali justru membuat mereka menunggu sampai “reminder berikutnya”, bukan mendengarkan sejak awal. Jika dibiarkan, anak bisa berkembang menjadi lebih menantang dan suka mengatur.
4. Mengambil Camilan atau Menyalakan TV Sendiri
Memang praktis ketika anak bisa mengambil camilan atau menyalakan TV sendiri. Namun jika kegiatan yang seharusnya kamu atur itu dilakukan tanpa izin, anak jadi belajar bahwa mereka bebas melanggar aturan.
Dr. Wyckoff memberi contoh sederhana: “Hari ini anak naik ke meja untuk mengambil biskuit mungkin terlihat lucu, tetapi nanti saat usia 8 tahun mereka bisa saja pergi ke rumah teman yang jaraknya tiga blok tanpa izin.”
5. Anak Mulai Bersikap Ketus

Banyak orang tua mengira sikap ketus baru muncul di usia pra-remaja. Nyatanya, anak usia prasekolah pun bisa menirukan sikap ini dari anak yang lebih besar sebagai cara menguji reaksi orang tua.
Menurut Dr. Borba, jika dibiarkan, anak bisa tumbuh menjadi siswa kelas 3 SD yang tidak menghargai orang lain dan kesulitan berteman.
6. Membesar-besarkan Cerita atau Berbohong Kecil
Kadang anak mengatakan mereka sudah merapikan tempat tidur padahal hanya menarik selimut sedikit saja. Meskipun terlihat sepele, orang tua tetap perlu menegaskan pentingnya berkata jujur. Di usia prasekolah, anak memang sedang bereksperimen dengan kebohongan, dan disinilah orang tua perlu membentuk kebiasaan kejujuran.
Dr. Wyckoff menjelaskan bahwa kebohongan bisa menjadi otomatis jika anak merasa itu cara mudah terlihat lebih baik, menghindari pekerjaan, atau menghindari hukuman.
Cara Mengatasi Perilaku Anak Usia Prasekolah yang Bijak
Nah, sikap-sikap anak yang diatas tentu bisa membuat Bunda khawatir dan sedih bukan? Anda tidak perlu khawatir, simak ini cara mengatasi perilaku anak usia prasekolah yang bijak dan sesuai dengan kemampuan ibu.
1. Meminta Pertolongan Allah
Setiap langkah mendidik anak harus dimulai dengan doa dan memohon pertolongan kepada Allah. Salah satu doa untuk meminta perlindungan yang bisa kepada Allah ﷻ yang dinukilkan dari hadist Rasulullah ﷻ. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ قَالَ: “بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ”
Artinya:
“Rasulullah ﷺ apabila keluar dari rumahnya, beliau mengucapkan: ‘Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tersesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, menzalimi atau dizalimi, dan dari berbuat bodoh atau dibodohi.’ (HR. Abu Dawud No. 5094).
Dengan melibatkan Allah dalam mendidik anak, orang tua akan lebih tenang menghadapi kesulitan. Orang tua yang memiliki kesadaran spiritual tinggi lebih mampu mengelola stres dan menunjukkan sikap sabar dalam mendidik anak.
Mengajarkan Anak Mengenali Emosi

Orang tua bisa membantu anak mengenali emosi dengan cara sederhana, misalnya menyebutkan perasaan yang mereka alami: “Kamu sedang marah ya?” atau “Kamu merasa sedih?”. Dengan cara ini, anak belajar bahwa emosi bisa diungkapkan dengan kata-kata, bukan hanya dengan tangisan.
Pengenalan emosi sejak dini membantu anak lebih mudah mengendalikan perilaku. Dengan cara ini, perilaku anak menjadi lebih terarah dan sehat.
Memberikan Rutinitas yang Konsisten
Rutinitas harian yang konsisten, seperti waktu makan, tidur, dan bermain, membantu anak merasa aman. Anak yang terbiasa dengan rutinitas lebih jarang mengalami tantrum karena mereka tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
rutinitas konsisten meningkatkan rasa aman anak. Dengan cara ini, perilaku anak lebih stabil karena mereka terbiasa dengan pola yang teratur.
Menggunakan Teknik Distraksi
Ketika anak mulai tantrum, orang tua bisa menggunakan teknik distraksi, seperti mengajak anak bermain atau mengalihkan perhatian ke hal lain. Distraksi membantu anak mengalihkan fokus dari emosi negatif ke aktivitas yang lebih menyenangkan.
Dengan adanya distraksi efektif dalam mengurangi intensitas tantrum. Dengan cara ini, perilaku anak lebih mudah dikendalikan tanpa harus memaksa mereka berhenti menangis.
Memberikan Contoh Perilaku Positif

Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Ketika orang tua menunjukkan cara mengendalikan emosi dengan tenang, anak akan meniru perilaku tersebut. Misalnya, orang tua bisa menunjukkan cara menarik napas dalam ketika merasa marah.
Memberikan contoh atau modeling atau pemberian contoh adalah metode efektif dalam membentuk perilaku anak. Dengan cara ini, anak belajar mengatasi emosi dengan cara yang lebih sehat.
Memberikan Pujian atas Perilaku Baik
Pujian sederhana seperti “Bagus sekali kamu bisa menunggu dengan sabar” membantu anak merasa dihargai. Pujian memperkuat perilaku positif dan membuat anak lebih termotivasi untuk mengulanginya.
Reinforcement positif berperan besar dalam membentuk perilaku anak. Dengan cara ini, anak lebih semangat untuk menunjukkan perilaku baik.
Bersama Albata Preschool, Anak Belajar Adab Sederhana yang Menyenangkan
Maka dari itu Bunda, membentuk adab sejak dini bukan hanya tentang mengajarkan anak berkata sopan atau mengikuti aturan, tetapi menanamkan kebiasaan baik yang akan mereka bawa seumur hidup.
Di Albata Preschool, setiap anak dibimbing dengan kurikulum Islami berbasis Al-Qur’an dan Sunnah, mulai dari tauhid, akhlak, fiqih, tahsin, hingga sirah. Semua materi disampaikan dengan pendekatan yang lembut, bertahap, dan sesuai usia, sehingga anak belajar tanpa merasa ditekan.
Melalui pembiasaan adab sehari-hari, roleplay islami, kegiatan fun learning, hingga teladan dari ustadzah yang ramah anak, sedikit demi sedikit karakter positif tumbuh dalam diri si kecil. Mereka belajar menghormati orang tua, menyayangi teman, menjaga kebersihan, dan memahami nilai-nilai Islam melalui pengalaman nyata, bukan sekadar teori.
Jika Bunda ingin menghadiahkan pondasi akhlak yang kuat bagi buah hati, Albata Preschool adalah pilihan yang tepat. Yuk, bergabung bersama lingkungan belajar yang penuh kasih, Islami, dan mendukung perkembangan anak secara holistik. Cek informasi selengkapnya di Instagram @albata.id atau klik link di bawah ini untuk pendaftaran ya, Bun.





