Lembaga Pendidikan Montessori Islam

Memasak Makanan Tradisional di Field Trip Albata Pempek Farina Surabaya-Sidoarjo

field trip Albata
August 18, 2025

Ayah dan Bunda, mengenalkan makanan tradisional pada anak kini bisa jadi pengalaman yang seru dan tak terlupakan. Field Trip Albata di Surabaya dan Sidoarjo hadir dengan kegiatan unik, yaitu mengajak si kecil memasak langsung di Pempek Farina. 

Program ini dirancang khusus untuk tidak hanya mengenalkan kekayaan kuliner Indonesia, tetapi juga melatih motorik halus, kemandirian, dan kreativitas anak. Melalui pengalaman ini, anak-anak tidak hanya sekadar mencicipi, tetapi juga memahami proses di balik hidangan lezat yang mereka sukai.

Artikel ini akan mengupas tuntas keseruan field trip di Pempek Farina bersama Albata. Kita akan membahas manfaat edukatif dari kegiatan ini, bagaimana ia menumbuhkan rasa bangga anak pada budaya lokal, dan mengapa ini menjadi pilihan tepat untuk mengisi waktu luang yang berkualitas. Yuk, simak ulasan selengkapnya!

Dongeng dan Kisah Belajar Bahasa, Nilai, dan Imajinasi Bagi Anak 

Ayah dan Bunda, kegiatan pertama yang dilakukan saat field trip Albata di Pempek Farina adalah menceritakan dongeng dan asal usul makanan pempek asal Palembang ini. Tahukah Anda, bahwa kegiatan bercerita memiliki dampak yang baik bagi anak loh. 

Kegiatan membacakan atau menceritakan kisah kepada anak terbukti mendukung perkembangan bahasa, memperluas imajinasi, dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Dengan mengenalkan cerita sejak dini, orang tua turut membentuk fondasi kognitif dan emosional anak secara menyeluruh.

Kisah-kisah yang disampaikan secara verbal atau melalui buku bergambar dapat menjadi alat yang efektif untuk membangun kedekatan emosional antara anak dan orang tua. Selain itu, dongeng juga berfungsi sebagai media refleksi, di mana anak belajar memahami situasi, karakter, dan keputusan yang diambil oleh tokoh cerita. Berikut adalah lima alasan utama mengapa dongeng perlu dikenalkan kepada anak sejak usia dini.

1. Mengembangkan Imajinasi dan Kreativitas

Dongeng mendorong anak untuk membayangkan tokoh-tokoh cerita, latar tempat, dan alur kejadian yang tidak selalu mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Proses membayangkan ini merangsang otak anak untuk berpikir secara kreatif, menciptakan gambaran mental, dan mengembangkan ide-ide baru. Imajinasi yang aktif menjadi dasar bagi kemampuan anak dalam menyelesaikan masalah dan berinovasi di masa depan.

Ketika anak terbiasa mendengarkan cerita, mereka juga terdorong untuk membuat cerita versi mereka sendiri. Orang tua dapat memperkuat proses ini dengan mengajak anak berdiskusi tentang akhir cerita, membuat ilustrasi, atau bermain peran berdasarkan tokoh dalam dongeng. Aktivitas ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memperkuat keterampilan berpikir divergen dan ekspresi diri anak.

2. Mengenalkan Nilai Moral dan Etika

Banyak dongeng dan kisah rakyat mengandung pesan moral yang disampaikan melalui tokoh dan alur cerita. Nilai-nilai seperti kejujuran, kerja keras, keberanian, dan rasa hormat terhadap orang lain disampaikan secara halus namun efektif. Anak lebih mudah memahami dan menginternalisasi nilai-nilai tersebut ketika disampaikan dalam bentuk cerita yang menarik dan relevan dengan kehidupan mereka.

Melalui cerita, anak juga belajar membedakan antara perilaku baik dan buruk, serta memahami konsekuensi dari setiap tindakan. Orang tua dapat memperkuat pembelajaran ini dengan mengajak anak berdiskusi setelah membaca cerita, menanyakan pendapat mereka tentang tokoh tertentu, dan mengaitkan pesan cerita dengan situasi nyata di rumah atau sekolah. Dengan cara ini, nilai moral tidak hanya menjadi teori, tetapi juga bagian dari praktik sehari-hari.

3. Memperkaya Kosakata dan Bahasa

Mendengarkan dongeng secara rutin membantu anak terbiasa dengan berbagai jenis kata, ungkapan, dan struktur kalimat. Hal ini sangat penting dalam tahap awal perkembangan bahasa, karena anak menyerap pola bahasa secara alami melalui paparan yang konsisten.

Dongeng juga memperkenalkan anak pada kata-kata yang jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari, sehingga memperluas kosakata mereka.

Selain itu, anak belajar memahami konteks penggunaan kata, intonasi, dan ekspresi verbal. Orang tua dapat memperkuat manfaat ini dengan membacakan cerita secara ekspresif, menggunakan intonasi yang sesuai, dan melibatkan anak dalam percakapan seputar cerita.

Semakin kaya paparan bahasa yang diterima anak, semakin kuat kemampuan mereka dalam berbicara, menulis, dan memahami teks di kemudian hari.

4. Menghubungkan Anak dengan Budaya

Dongeng daerah seringkali mencerminkan nilai, tradisi, dan cara hidup masyarakat setempat. Dengan mengenalkan kisah-kisah tradisional, anak belajar mengenali identitas budaya mereka dan memahami keberagaman yang ada di lingkungan sekitar. Hal ini membentuk rasa bangga terhadap asal-usul dan memperkuat keterikatan anak dengan komunitasnya.

Orang tua dapat memperkaya pengalaman ini dengan memilih dongeng dari berbagai daerah, menjelaskan latar budaya yang melatarbelakangi cerita, dan mengaitkan kisah dengan pengalaman keluarga. Kegiatan ini tidak hanya memperluas wawasan anak, tetapi juga menumbuhkan rasa hormat terhadap budaya lain. Dongeng menjadi jembatan yang menghubungkan anak dengan akar budaya dan nilai-nilai lokal yang penting untuk pembentukan karakter.

5. Melatih Kemampuan Mendengar dan Konsentrasi

Saat anak mendengarkan cerita, mereka belajar untuk fokus, menyimak, dan mengikuti alur cerita dengan penuh perhatian. Kemampuan ini sangat penting dalam proses belajar, karena menjadi dasar bagi keterampilan akademik seperti membaca, menulis, dan memahami instruksi. Mendengarkan dongeng juga melatih daya ingat dan kemampuan anak dalam menyusun informasi secara runtut.

Orang tua dapat memperkuat keterampilan ini dengan menciptakan rutinitas membaca cerita sebelum tidur, memberikan pertanyaan ringan setelah cerita selesai, dan mengajak anak menceritakan kembali isi cerita dengan kata-kata mereka sendiri. Dengan latihan yang konsisten, anak akan terbiasa untuk fokus dalam waktu yang lebih lama dan menunjukkan peningkatan dalam kemampuan menyimak dan berpikir logis.

Field Trip Albata di Pempek Farina Surabaya 

Field trip Albata kali ini mengajak anak-anak untuk belajar langsung di Pempek Farina Surabaya tempat makan dan pembuatan makanan khas Palembang. Kegiatan ini dirancang bukan hanya untuk mengenalkan makanan tradisional, tetapi juga untuk melatih keterampilan anak melalui pengalaman nyata. 

Anak-anak diajak memahami proses pembuatan makanan dari awal, mulai dari mengenal bahan, mendengarkan kisah budaya, hingga menikmati hasil masakan mereka sendiri.

Dengan pendekatan yang menyenangkan dan terstruktur, kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran yang menggabungkan edukasi kuliner, penguatan karakter, dan stimulasi motorik halus. Berikut adalah penjabaran dari setiap sesi kegiatan yang dilakukan, lengkap dengan manfaat yang dapat diterapkan dalam kehidupan anak sehari-hari.

1. Pembukaan dan Doa Bersama

Kegiatan dimulai dengan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur atas kesempatan belajar di luar kelas. ustadzah Albata memimpin anak-anak untuk mengucapkan doa dengan khusyuk, sekaligus mengingatkan bahwa setiap aktivitas yang dilakukan adalah bagian dari amanah yang perlu dijalani dengan penuh tanggung jawab. 

Doa ini juga menjadi pengantar yang menenangkan dan membangun suasana belajar yang positif.

Setelah doa, ustadzah memberikan arahan singkat mengenai alur kegiatan dan pentingnya menjaga keselamatan selama berada di lokasi. Anak-anak diajak untuk bersikap tertib, mendengarkan instruksi, dan menghormati lingkungan sekitar. 

Orang tua yang mendampingi juga dilibatkan dalam pengarahan agar dapat membantu anak mengikuti kegiatan dengan aman dan nyaman.

2. Pengenalan Bahan dan Peralatan Memasak

Anak-anak diperkenalkan pada berbagai bahan dasar pembuatan pempek, seperti ikan tenggiri, tepung sagu, bawang putih, dan bumbu pelengkap. Mereka diberi kesempatan untuk melihat, menyentuh, dan mencium aroma bahan-bahan tersebut secara langsung. Aktivitas ini merangsang indera anak dan memperkaya pengalaman sensorik mereka.

Selain bahan, anak juga dikenalkan dengan peralatan dapur yang digunakan dalam proses memasak, seperti baskom, sendok, kompor, dan alat perebus. ustadzah menjelaskan fungsi masing-masing alat dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami. 

Kegiatan ini membantu anak memahami bahwa memasak membutuhkan alat dan langkah yang teratur, serta melatih mereka untuk lebih menghargai proses di balik makanan yang mereka konsumsi.

3. Mendengarkan Asal Usul Makanan Pempek

Sebelum memulai praktik memasak, ustadzah menyampaikan kisah atau dongeng singkat yang berkaitan dengan makanan tradisional atau budaya daerah. Cerita ini disampaikan dengan gaya yang menarik dan penuh ekspresi, sehingga anak-anak lebih antusias dan terlibat secara emosional. Kisah yang disampaikan biasanya mengandung pesan moral, seperti kerja keras, rasa syukur, atau kebersamaan.

Kegiatan ini bertujuan untuk membangun suasana yang hangat dan menyenangkan, sekaligus mengaitkan pengalaman memasak dengan nilai-nilai budaya dan karakter. 

Anak-anak belajar bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga bagian dari warisan dan identitas suatu daerah. Orang tua dapat memperkuat pembelajaran ini dengan berdiskusi bersama anak tentang isi cerita dan nilai-nilai yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

4. Praktik Membuat Pempek

Dipandu oleh ustadzah dan didampingi orang tua, anak-anak mulai membuat adonan pempek dengan mencampurkan bahan-bahan yang telah dikenalkan sebelumnya. Mereka belajar membentuk pempek sesuai arahan, lalu menyaksikan proses perebusan hingga matang. Aktivitas ini melatih koordinasi tangan-mata, keterampilan motorik halus, serta kesabaran dalam mengikuti tahapan kerja.

Selama proses ini, anak juga belajar tentang kebersihan, ketelitian, dan kerja sama. Mereka diajak untuk saling membantu, bergiliran menggunakan alat, dan menjaga area kerja tetap rapi. Orang tua yang terlibat secara aktif dapat memperkuat bonding dengan anak, sekaligus menjadi teladan dalam menunjukkan sikap positif selama bekerja bersama.

5. Membawa Hasil Masakan

Setelah pempek selesai dimasak, anak-anak diberi kesempatan untuk membawa pulang hasil karya mereka masing-masing. Pempek yang telah mereka buat dikemas dengan rapi agar bisa dinikmati bersama keluarga di rumah. 

Momen ini menjadi simbol dari proses belajar yang utuh anak tidak hanya memahami teori dan praktik, tetapi juga merasakan hasil nyata dari usaha mereka sendiri.

Menciptakan Suasana Belajar 

Field trip Albata di Pempek Farina Surabaya-Sidoarjo membuktikan bahwa pembelajaran bisa berlangsung dengan cara yang menyenangkan dan penuh makna. Anak tidak hanya belajar memasak makanan tradisional, tetapi juga mendapatkan cerita yang memperkaya wawasan dan nilai moral mereka.

Dengan menggabungkan keterampilan memasak, nilai budaya, dan cerita yang menginspirasi, Pop Up Class Albata terus berkomitmen menghadirkan kegiatan edukatif yang menyenangkan sekaligus bermanfaat. 

Bagi orang tua yang menginginkan pendidikan terbaik untuk buah hati, bergabung dengan Pop Up Class Albata adalah pilihan yang tepat dan bijak. Di sini, anak-anak belajar dengan cara yang menyenangkan, relevan dengan kehidupan sehari-hari, dan selaras dengan nilai-nilai Islam. Kegiatan dirancang untuk membangun anak yang disiplin, sopan, dan cerdas bukan hanya secara akademik, tetapi juga secara emosional dan spiritual.

Segera daftarkan anak Anda dan rasakan sendiri bagaimana Albata mengubah proses belajar menjadi petualangan yang penuh makna. 

Tempat terbatas, pastikan anak Anda menjadi bagian dari generasi pembelajar yang berakhlak mulia dan siap menghadapi masa depan dengan percaya diri.

Leave A Comment:

Your email address will not be published. Required fields are marked *