Orang Tua Suka Marah Pada Anak Sebab Luka Pengasuhan Masa Lalu?
Ayah dan Bunda, pernahkah Anda merasa sebagai orang tua suka marah Anda terhadap anak terasa berlebihan atau tidak sebanding dengan kesalahannya? Mungkin Anda bertanya-tanya, “kok bisa ya saya semudah itu marah?” Perasaan ini wajar, dan seringkali, akar masalahnya bukan terletak pada perilaku anak hari ini, melainkan pada luka pengasuhan masa lalu yang belum tersembuhkan.
Pengalaman traumatis atau pola asuh yang keras di masa kecil dapat memicu respons emosional yang kuat (reaktivitas), membuat Anda sulit bersabar dan sulit mengendalikan diri saat menghadapi tekanan. Ini adalah mekanisme pertahanan diri yang perlu diatasi.
Artikel ini hadir untuk membantu Ayah dan Bunda memahami hubungan antara luka pengasuhan masa lalu dengan kecenderungan marah pada anak. Kita akan membahas cara mengenali pemicunya, hingga tips praktis untuk memutus rantai trauma ini.
Diharapkan dengan informasi ini, Anda dapat menjadi orang tua yang lebih sadar dan penyayang. Yuk, simak ulasan selengkapnya!
Jenis Luka Pengasuhan yang Sering Terbawa ke Masa Dewasa
Banyak orang tua suka marah dan merasa bersalah karena mudah marah atau bereaksi berlebihan terhadap anak. Padahal, emosi tersebut tidak selalu muncul karena perilaku anak, melainkan bisa berasal dari pengalaman masa kecil yang menyakitkan. Luka pengasuhan yang belum terselesaikan dapat membentuk pola reaksi emosional yang berulang, bahkan tanpa disadari.
Pengalaman negatif di masa kecil, seperti dimarahi, dikritik, atau dilarang mengekspresikan perasaan, meninggalkan jejak emosional yang terbawa hingga dewasa. Jika tidak disadari dan diolah, luka ini bisa mempengaruhi cara orang tua merespons anak, terutama saat anak menunjukkan emosi yang kuat.
Maka, penting bagi orang tua untuk mengenali luka lama agar tidak mewariskannya kembali. Berikut sejumlah luka pengasuhan yang bisa saja orang tua tidak sadari sebelumnya.
1. Terbiasa Dimarahi atau Dihukum Secara Keras

Sebagian besar orang tua suka marah saat ini tumbuh dalam lingkungan yang keras, di mana kesalahan kecil sering dibalas dengan teriakan atau hukuman fisik. Pola ini membentuk keyakinan bahwa kemarahan adalah cara utama untuk mengatur anak. Tanpa disadari, mereka cenderung mengulang pola tersebut dalam pengasuhan, meskipun tahu bahwa dampaknya tidak sehat.
Menunjukkan bahwa anak yang sering menerima hukuman keras berisiko besar meniru pola agresif saat dewasa. Ini berarti, kemarahan yang muncul bukan hanya reaksi spontan, tetapi juga warisan dari pola asuh yang dulu diterima.
2. Sering Dikritik atau Dipermalukan
Sebagian orang tua pernah mengalami masa kecil yang penuh kritik dan kata-kata merendahkan. Ungkapan seperti “kamu tidak cukup pintar” atau “kamu selalu salah” bisa menanamkan rasa rendah diri yang mendalam. Luka ini kemudian muncul kembali dalam bentuk kebiasaan mengkritik anak secara berlebihan.
Penolakan verbal dan kritik tajam di masa kecil berdampak negatif pada regulasi emosi dan harga diri anak. Jika tidak disadari, orang tua suka marah bisa menjadi sumber luka baru bagi anak, meskipun niat awalnya adalah mendidik.
3. Dilarang Mengekspresikan Emosi

Banyak anak dulu tidak diberi ruang untuk mengungkapkan perasaan. Mereka diminta diam saat sedih, tidak boleh marah, dan harus selalu patuh. Pola ini membentuk keyakinan bahwa emosi adalah sesuatu yang salah atau memalukan. Ketika dewasa, mereka kesulitan mengenali dan mengelola emosinya sendiri.
Penekanan emosi sejak kecil dapat meningkatkan risiko reaktivitas berlebihan di usia dewasa. Akibatnya, orang tua bisa meledak saat anak menunjukkan ekspresi emosional, bukan karena perilaku anak, tetapi karena ketidakmampuan mereka sendiri dalam menghadapi emosi.
Langkah-Langkah Mengatasi Luka Pengasuhan Akibat Orang Tua Suka Marah
Nah, menyadari bahwa Bunda atau Ayah mengalami luka pengasuhan yang tentu berdampak pada anak. Maka ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi luka pengasuhan pada diri Anda menurut psikolog Audrey Susanto, M.Psi., MSc., Psikolog., EPMTM.
1. Mengenali Momen Ketika Emosi Tidak Stabil

Langkah awal dalam penyembuhan adalah menyadari kapan emosi mulai tidak terkendali. Misalnya, saat anak rewel, tidak mendengarkan, atau membuat rumah berantakan. Dengan mengenali pemicu ini, orang tua bisa mengambil jeda sebelum bereaksi. Kesadaran ini membantu menghindari respons impulsif yang bisa melukai anak.
Praktik mindfulness atau kesadaran penuh dapat membantu seseorang mengelola emosi dengan lebih bijak. Dengan melatih diri untuk berhenti sejenak dan mengamati perasaan yang muncul, orang tua dapat merespons dengan tenang dan penuh kendali.
2. Memberi Ruang untuk Menenangkan Diri
Orang tua juga perlu menyediakan waktu untuk menenangkan diri. Mengambil jeda, seperti menarik napas dalam, berdoa, atau berpindah ke ruangan lain, bisa membantu meredakan ketegangan. Dengan cara ini, reaksi yang muncul bukan lagi luapan marah, tetapi respons yang lebih tenang dan terarah.
Teknik mindfulness dan self-compassion terbukti efektif dalam mengurangi stres dan meningkatkan kesabaran orang tua. Memberi ruang untuk diri sendiri bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab emosional.
3. Mengganti Pola Asuh yang Tidak Adaptif
Setelah menyadari luka yang ada, orang tua dapat mulai membangun pola asuh baru yang lebih sehat. Misalnya, mengganti kritik dengan apresiasi, atau mengganti teriakan dengan komunikasi yang lembut namun tegas. Pola ini membantu anak merasa aman dan dihargai, sekaligus membentuk regulasi emosi yang baik.
Menyebutkan bahwa pola pengasuhan yang responsif dan penuh empati mendukung perkembangan emosional anak secara optimal. Perubahan ini tidak hanya berdampak pada anak, tetapi juga membantu orang tua merasa lebih damai dan percaya diri.
4. Mencari Dukungan dan Pendampingan

Tidak semua luka pengasuhan bisa diselesaikan sendiri. Ada kalanya orang tua membutuhkan dukungan dari pasangan, keluarga, komunitas, atau tenaga profesional seperti psikolog. Terapi atau konseling dapat membantu menggali pengalaman masa kecil dan menyembuhkan luka yang belum terselesaikan.
Dengan pendampingan yang tepat, orang tua lebih siap membangun pola asuh yang sehat dan tidak lagi terbebani oleh masa lalu. Dukungan ini juga memberi ruang bagi orang tua untuk tumbuh dan belajar, sehingga pengasuhan menjadi lebih harmonis dan penuh kasih.
Kesimpulan
Orang tua mudah marah pada anak sering kali bukan karena perilaku anak semata, melainkan cerminan luka yang dibawa dari pengasuhan masa lalu. Luka-luka seperti sering dimarahi, dikritik, atau dilarang mengekspresikan emosi bisa meninggalkan trauma yang terbawa hingga dewasa.
Namun, luka ini bukan berarti tidak bisa disembuhkan. Dengan menyadari momen emosi, memberi ruang untuk diri sendiri, serta membangun pola asuh baru yang lebih sehat, orang tua bisa memutus rantai trauma dan menghadirkan pengasuhan penuh kasih untuk anak-anaknya.
Reference
Laela, M. N., & Rohmah, U. (2021). Keterkaitan pola asuh dan inner child pada tumbuh kembang anak. Dalam Prosiding Loka Karya Pendidikan Islam Anak Usia Dini: Pengembangan Potensi Anak Usia Dini. IAIN Ponorogo.




