Lembaga Pendidikan Montessori Islam

Bunda, Bahaya Bertengkar di Depan Anak Bisa Merusak Kesehatan Otaknya Loh

bertengkar di depan anak
October 7, 2025

Ayah dan Bunda, mungkin tanpa sadar kita berpikir bahwa sedikit pertengkaran dengan pasangan di rumah adalah hal biasa. Namun, tahukah Anda, bahaya bertengkar di depan anak jauh lebih serius daripada sekadar melihat orang tua berdebat?

Penelitian menunjukkan bahwa menyaksikan bertengkar di depan anak dapat melepaskan hormon stres kortisol dalam tubuh anak, yang secara harfiah merusak kesehatan otaknya, lho. 

Area otak yang bertanggung jawab atas regulasi emosi dan rasa aman bisa terpengaruh, membuat anak menjadi cemas, agresif, atau menarik diri. Bunda, ini adalah panggilan untuk mengutamakan kedamaian rumah.

Artikel ini hadir untuk mengupas tuntas mengapa pertengkaran di hadapan anak sangat berbahaya, bahkan jika tidak melibatkan fisik. Kita akan membahas dampak jangka panjang pada mental anak dan memberikan tips praktis untuk menyelesaikan konflik secara konstruktif dan pribadi. Yuk, simak ulasan selengkapnya!

Bahayanya Bertengkar di Depan Anak

Bertengkar di depan anak bukanlah hal sepele. Meskipun orang tua tidak bermaksud melibatkan anak dalam konflik, kenyataannya anak tetap menyerap emosi, kata-kata, dan suasana yang terjadi. 

Anak usia dini memiliki otak yang sedang berkembang pesat, dan paparan konflik emosional dapat mempengaruhi struktur serta fungsi otaknya. Bertengkar di depan anak bukan hanya berdampak pada psikologis, tetapi juga pada kesehatan fisik dan sosial anak dalam jangka panjang.

Memiliki Gangguan Makan dan Masalah Fisik

Anak yang sering menyaksikan pertengkaran orang tua berisiko mengalami gangguan makan, seperti kehilangan nafsu makan, makan berlebihan, atau memilih makanan sebagai pelarian emosi. Gangguan ini bisa berlanjut menjadi masalah fisik seperti sakit perut, gangguan tidur, atau penurunan daya tahan tubuh.

Anak yang terpapar konflik keluarga secara intens menunjukkan peningkatan gejala psikosomatis dan gangguan pola makan sebagai respons terhadap stres yang tidak terselesaikan.

Punya Pandangan Negatif terhadap Keluarga

Bertengkar di depan anak dapat membentuk persepsi negatif tentang keluarga. Anak bisa merasa bahwa rumah bukan tempat yang aman, atau bahwa hubungan antar anggota keluarga selalu penuh konflik. Pandangan ini dapat memengaruhi cara anak membangun relasi di masa depan, termasuk dalam pernikahan dan pengasuhan.

Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh pertengkaran cenderung memiliki kelekatan emosional yang rapuh dan kesulitan mempercayai orang lain.

Masalah Komunikasi Sosial

Anak yang terbiasa melihat pertengkaran orang tua bisa meniru pola komunikasi yang agresif atau pasif. Mereka mungkin menjadi pribadi yang mudah marah, sulit menyampaikan pendapat dengan tenang, atau justru menarik diri dari interaksi sosial. Hal ini berdampak pada kemampuan anak membangun hubungan yang sehat dengan teman sebaya maupun guru.

Konflik antar orang tua yang disaksikan anak dapat mengganggu perkembangan keterampilan sosial dan kemampuan regulasi emosi anak sejak usia dini.

Cara Bijak Menyelesaikan Pertengkaran Orang Tua

Cara bijak untuk menyelesaikan pertengkaran orang tua perlahan perlu diselesaikan dengan baik. Orang tua perlahan harus menyelesaikan konflik dengan baik. Jangan sampai anak trauma dengan orang tuanya. 

Menunda Pertengkaran di Depan Anak

Jika konflik tidak bisa dihindari, orang tua perlu menyadari bahwa waktu dan tempat sangat menentukan dampaknya. Menunda pembicaraan yang berpotensi memicu pertengkaran hingga anak tidak berada di sekitar adalah langkah bijak. Anak tidak perlu menjadi saksi dari emosi yang belum terkelola.

Dengan menunda, orang tua memberi ruang untuk berpikir lebih jernih dan menghindari kata-kata yang bisa melukai. Ini juga menunjukkan bahwa orang tua mampu mengatur emosi dan menghargai kenyamanan psikologis anak.

Mengelola Nada Bicara dan Bahasa Tubuh

Pertengkaran tidak selalu harus terjadi dengan suara tinggi dan ekspresi marah. Orang tua bisa belajar menyampaikan ketidaksetujuan dengan nada yang tenang dan bahasa tubuh yang tidak mengancam. Anak yang melihat orang tuanya berdiskusi dengan hormat akan belajar bahwa konflik bisa diselesaikan tanpa kekerasan.

Anak yang menyaksikan komunikasi yang sehat antara orang tua memiliki kemampuan lebih baik dalam menyelesaikan konflik secara konstruktif.

Menjelaskan Situasi dengan Bahasa yang Aman

Jika anak sempat melihat pertengkaran, penting bagi orang tua untuk menjelaskan situasi dengan bahasa yang sesuai usia. Misalnya, “Tadi Ayah dan Ibu sedang berbeda pendapat, tapi sekarang sudah saling memahami.” Penjelasan ini membantu anak merasa aman dan tidak menyimpan ketakutan atau kebingungan.

Penjelasan yang jujur dan lembut juga membantu anak memahami bahwa konflik adalah bagian dari hubungan, tetapi bisa diselesaikan dengan cara yang baik.

Meminta Maaf dan Menunjukkan Rekonsiliasi

Setelah konflik mereda, orang tua perlu menunjukkan bahwa hubungan tetap utuh dan penuh kasih. Meminta maaf satu sama lain di depan anak, atau menunjukkan gestur saling menghargai, memberi pesan bahwa cinta dan pengertian tetap menjadi dasar keluarga.

Anak yang melihat proses rekonsiliasi akan belajar bahwa kesalahan bisa diperbaiki dan bahwa hubungan tidak berakhir karena konflik. Ini membentuk pola pikir yang sehat tentang dinamika keluarga.

Membangun Rutinitas Emosional yang Positif

Untuk mengimbangi dampak konflik, orang tua bisa membangun rutinitas emosional yang positif, seperti membaca buku bersama, bermain, atau berbincang ringan sebelum tidur. Aktivitas ini memperkuat kelekatan emosional dan memberi ruang bagi anak untuk merasa dicintai dan aman.

Rutinitas positif membantu anak mengembangkan daya tahan emosional dan menjadi penyeimbang dari situasi yang menegangkan.

Kesimpulan 

Bertengkar di depan anak bukan hanya soal suasana rumah yang tidak nyaman, tetapi juga tentang dampak jangka panjang terhadap kesehatan otak dan perkembangan emosional anak. Anak yang sering menyaksikan konflik orang tua berisiko mengalami gangguan fisik, kesulitan sosial, dan pandangan negatif terhadap keluarga. Namun, dengan kesadaran dan komitmen untuk berubah, orang tua bisa menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan mendukung.

Pola komunikasi dalam keluarga sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak. Maka, mari menjadi orang tua yang tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga sadar secara emosional. Karena anak belajar bukan hanya dari apa yang kita ajarkan, tetapi dari apa yang kita tunjukkan setiap hari.

Reference 

Junierissa Marpaung dkk. 2022. Studi Deskriptif Dampak Orang Tua yang Berkonflik Bagi Anak. Jurnal Cahaya Pendidikan. Universitas Riau.

Leave A Comment:

Your email address will not be published. Required fields are marked *