Lembaga Pendidikan Montessori Islam

Mendengar Anak Menangis Membuat Ibu Lebih Emosi, Kok Bisa?

ibu lebih emosi
September 30, 2025

Ayah dan Bunda, pernahkah Anda merasa bahwa tangisan anak justru memicu ibu lebih emosi yang berlebihan, bahkan membuat Anda lebih cepat marah atau cemas daripada biasanya? Jika ya, Anda tidak sendirian. 

Fenomena mendengar anak menangis membuat ibu lebih emosi ini bukanlah tanda kegagalan sebagai orang tua, melainkan respons biologis dan psikologis yang sangat kompleks. Suara tangisan anak, terutama pada ibu, dapat memicu pusat stres di otak, yang membuat kita bereaksi dengan intensitas yang lebih tinggi. 

Ini adalah alarm alami yang menuntut perhatian segera, tetapi jika tidak dikelola dengan baik, bisa menjadi sumber kelelahan emosional. Artikel ini hadir untuk membantu Ayah dan Bunda memahami mengapa hal ini bisa terjadi, dari sisi ilmiah maupun psikologis. 

Kita akan membahas cara-cara bijak untuk mengelola respons emosional ini dan tetap bisa merespons tangisan si kecil dengan tenang dan penuh kasih. Yuk, simak ulasan selengkapnya!

Faktor-Faktor yang Membentuk Respons Emosi Ibu terhadap Tangisan Anak

Bunda, banyak orang tua, khususnya ibu, merasa bahwa tangisan anak dapat memicu reaksi emosional yang lebih intens daripada situasi lainnya. Perasaan marah, cemas, atau frustrasi sering kali muncul secara spontan, bahkan sebelum ibu sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi. Fenomena ini bukanlah tanda bahwa ibu gagal mengasuh, melainkan respons biologis dan psikologis yang sangat kompleks.

Secara ilmiah, suara tangisan anak memang dirancang untuk menarik perhatian orang tua secara instan. Penelitian menunjukkan bahwa tangisan bayi dapat mengaktifkan pusat stres di otak, terutama pada ibu, sehingga memicu reaksi emosional yang kuat. Jika tidak dikelola dengan baik, respons ini bisa menjadi sumber kelelahan mental dan memperburuk hubungan antara ibu dan anak.

1. Pengaruh Luka Pengasuhan di Masa Kecil

Sebagian ibu membawa pengalaman pengasuhan yang tidak tuntas dari masa kecil mereka. Jika dulu mereka tidak diberi ruang untuk mengekspresikan emosi atau dilarang menangis, maka tangisan anak bisa membangkitkan memori yang menyakitkan. Reaksi emosional menjadi ibu lebih emosi yang muncul bukan semata karena anak menangis, tetapi karena luka lama yang belum sembuh.

Pengalaman pengasuhan yang penuh tekanan dapat mempengaruhi kemampuan regulasi emosi saat dewasa. Oleh karena itu, penting bagi ibu untuk menyadari bahwa respons emosional yang muncul bisa jadi berasal dari masa lalu, bukan dari perilaku anak saat ini.

2. Pola Asuh yang Menuntut Kepatuhan Mutlak

Banyak orang tua tumbuh dalam lingkungan yang menuntut anak untuk selalu patuh tanpa banyak bicara. Ibu lebih emosi dari pola asuh seperti ini membuat mereka terbiasa menekan ekspresi emosi, baik milik sendiri maupun orang lain. Ketika anak menangis, ibu bisa merasa terganggu karena terbiasa dengan aturan keras dan minim empati.

Orang tua yang dibesarkan dengan pola otoriter cenderung lebih mudah marah ketika menghadapi emosi anak. Mereka belum terbiasa melihat tangisan sebagai bentuk komunikasi, melainkan sebagai gangguan yang harus segera dihentikan.

3. Tuntutan untuk Selalu Sempurna

Ibu lebih emosi yang tumbuh dengan ekspektasi tinggi dari orang tua cenderung membawa standar yang sama dalam mengasuh anak. Ketika anak menangis, mereka bisa merasa gagal atau tidak cukup baik sebagai orang tua. Perasaan ini menambah tekanan emosional dan bisa memicu kemarahan atau rasa bersalah yang berlebihan.

Perfeksionisme dalam pengasuhan berkorelasi dengan tingkat stres yang tinggi. Ibu perlu menyadari bahwa menjadi orang tua bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang kehadiran dan kesediaan untuk belajar bersama anak.

4. Minimnya Keterlibatan Emosional di Masa Kecil

Selain pola asuh yang keras, kurangnya keterlibatan emosional di masa kecil juga berpengaruh. Banyak ibu yang tidak diajak menikmati hobi atau aktivitas positif bersama orang tua mereka. Akibatnya, saat menjadi orang tua, mereka kesulitan membangun kedekatan emosional dengan anak, termasuk saat anak menangis.

Keterlibatan anak dalam aktivitas bersama orang tua dapat memperkuat ikatan emosional dan mengurangi konflik. Jika ibu tidak memiliki pengalaman ini sebelumnya, mereka mungkin merasa canggung atau tidak tahu cara merespons emosi anak dengan hangat.

Strategi Mengelola Perasaan Ibu Lebih Emosi Saat Anak Menangis

Maka dari itu Bunda, untuk mengatasi emosi saat anak menangis tentu harus dimulai dari diri Anda terlebih dahulu. Simak ada sejumlah cara yang bisa Anda lakukan untuk membantu menangani emosi menurut psikolog Audrey Susanto, M.Psi., MSc., Psikolog., EPMTM. 

1. Refleksi dan Pemahaman terhadap Pemicu Emosi

Langkah awal yang penting adalah menyadari bahwa emosi yang muncul bukan sepenuhnya karena anak menangis, melainkan karena ada pemicu dari pengalaman masa lalu. Ibu perlu meluangkan waktu untuk merefleksikan perasaan dan mengenali sumber emosinya. Dengan kesadaran ini, ibu bisa lebih tenang dan tidak bereaksi secara impulsif.

Kesadaran diri adalah pondasi utama dalam mengelola emosi secara sehat. Ketika ibu mampu memahami pemicu emosinya, mereka dapat merespons tangisan anak dengan lebih bijak dan penuh kasih.

2. Mengubah Pola Asuh yang Tidak Adaptif

Pola pengasuhan yang kaku dan penuh tuntutan bisa diubah menjadi lebih responsif dan empati. Salah satu caranya adalah dengan memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaan, termasuk saat menangis. Alih-alih memarahi, ibu dapat membantu anak mengenali dan menenangkan emosinya.

Orang tua yang mampu beradaptasi dan merespons emosi anak dengan lembut cenderung memiliki anak yang lebih mampu mengatur emosinya sendiri. Perubahan pola ini tidak hanya berdampak pada anak, tetapi juga membantu ibu merasa lebih tenang dan percaya diri.

3. Latihan Mindfulness dalam Perspektif Islam

Mindfulness atau kesadaran penuh dapat membantu ibu mengelola stres saat menghadapi tangisan anak. Latihan sederhana seperti menarik napas dalam-dalam, membaca dzikir, atau berdoa dapat menenangkan pikiran dan tubuh. Praktik ini membantu ibu merespons dengan tenang, bukan dengan reaksi impulsif.

Mindfulness efektif dalam mengurangi stres emosional, termasuk pada ibu yang menghadapi tekanan dalam pengasuhan. Dalam konteks Islam, mindfulness juga memperkuat hubungan spiritual dan menghadirkan ketenangan batin.

4. Membangun Rutinitas Positif Bersama Anak

Membentuk rutinitas yang menyenangkan bersama anak dapat memperkuat hubungan emosional dan mengurangi ketegangan saat anak menangis. Aktivitas seperti membaca buku sebelum tidur, bermain bersama, atau melibatkan anak dalam hobi ibu menciptakan ruang aman untuk berinteraksi.

Kelekatan emosional antara orang tua dan anak dalam perkembangan psikologis. Ketika hubungan ini kuat, ibu lebih mampu memahami tangisan anak sebagai bentuk komunikasi, bukan sebagai gangguan.

Kesimpulan

Tangisan anak memang bisa memicu emosi yang kuat, terutama bagi ibu yang membawa pengalaman pengasuhan yang belum tuntas. Namun, dengan refleksi, pemahaman diri, dan perubahan pola asuh, ibu dapat belajar merespons dengan lebih tenang dan penuh kasih. 

Latihan mindfulness dan rutinitas positif bersama anak juga membantu membangun hubungan yang sehat dan mengurangi ketegangan emosional. Pada akhirnya, memahami diri sendiri sama pentingnya dengan memahami kebutuhan anak. Ketika ibu mampu mengelola emosinya, proses pengasuhan menjadi lebih harmonis, penuh cinta, dan mendukung tumbuh kembang anak secara utuh. 

Reference 

Mardhiah, A., Bustamam, N., Asfaruddin, K., & Nasution, J. A. (2021). Gambaran luka pengasuhan pada orang tua. Jurnal Suloh. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.

Leave A Comment:

Your email address will not be published. Required fields are marked *