Bahaya Doomscrolling Untuk Kesehatan Mental Anak
Ayah dan Bunda, di era digital ini, kita semua dihadapkan pada fenomena doomscrolling, kebiasaan kompulsif menelusuri berita negatif, bencana, atau krisis secara terus-menerus di media sosial. Seringkali, kita lupa bahwa kebiasaan digital kita diamati dan dicontoh oleh anak-anak.
Bahaya doomscrolling untuk kesehatan mental anak sangat nyata. Ketika anak terpapar pada aliran informasi negatif yang konstan, itu dapat memicu kecemasan, ketakutan yang tidak beralasan, dan bahkan pandangan dunia yang pesimistis, meskipun mereka hanya menyaksikannya melalui perilaku orang tua.
Artikel ini hadir untuk meningkatkan kesadaran Ayah dan Bunda tentang dampak tak terlihat dari kebiasaan scrolling kita. Kita akan membahas cara melindungi anak dari paparan berita buruk yang berlebihan dan bagaimana memodelkan penggunaan teknologi yang lebih sehat dan sadar. Yuk, simak ulasan selengkapnya!
Pentingnya Dampak Bahaya Doomscrolling untuk Mental Anak
Doomscrolling adalah kebiasaan mengakses konten negatif secara terus-menerus di media sosial atau portal berita. Anak-anak, terutama yang sudah mengenal gawai sejak dini, sangat rentan terhadap pola ini. Tanpa disadari, mereka bisa terjebak dalam siklus konsumsi informasi yang memicu stres, kecemasan, dan gangguan emosional.
Menurut Halodoc dan penelitian dari Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, doomscrolling dapat menurunkan mental well-being anak dan meningkatkan psychological distress. Berikut beberapa dampak yang perlu diwaspadai oleh orang tua.
1. Meningkatkan Risiko Kecemasan dan Depresi

Anak yang terbiasa mengakses berita buruk atau konten negatif secara berulang cenderung mengalami peningkatan kecemasan. Mereka merasa dunia tidak aman, penuh ancaman, dan sulit diprediksi. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memicu gejala depresi seperti kehilangan minat, perubahan pola tidur, dan penurunan semangat belajar.
Salah satu dampak dari doomscrolling memiliki korelasi kuat dengan meningkatnya psychological distress pada generasi muda, termasuk anak-anak dan remaja.
2. Menurunkan Kesejahteraan Emosional
Doomscrolling membuat anak terus-menerus terpapar informasi yang memicu emosi negatif. Akibatnya, mereka kesulitan merasakan kebahagiaan, ketenangan, atau rasa aman. Kesejahteraan emosional anak terganggu karena otak mereka lebih sering berada dalam mode waspada dan stres.
Hal ini juga berdampak pada kemampuan anak dalam membangun hubungan sosial yang sehat. Anak menjadi lebih mudah tersinggung, menarik diri, atau menunjukkan perilaku agresif.
3. Mengganggu Pola Tidur dan Konsentrasi
Paparan layar yang berlebihan, terutama sebelum tidur, dapat mengganggu ritme sirkadian anak. Mereka sulit tidur nyenyak, sering terbangun, atau merasa lelah di pagi hari. Selain itu, doomscrolling membuat anak sulit fokus karena otaknya terus dipenuhi informasi yang tidak terstruktur dan emosional.
Gangguan tidur dan konsentrasi ini berdampak langsung pada prestasi akademik dan kemampuan anak dalam menyelesaikan tugas sehari-hari.
4. Membentuk Pola Pikir Negatif

Anak yang terbiasa doomscrolling cenderung memiliki pola pikir negatif terhadap dunia. Mereka lebih mudah merasa takut, curiga, atau pesimis. Pola ini bisa terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara mereka mengambil keputusan, membangun relasi, dan menghadapi tantangan.
Menurut pakar psikologi dari Naureen Digital Education, doomscrolling bukanlah bentuk kontrol terhadap situasi, melainkan kebiasaan yang memperkuat rasa tidak berdaya dan ketidakpastian.
Cara Mengurangi Doomscrolling bagi Anak
Mengurangi doomscrolling bukan berarti melarang anak menggunakan gawai, tetapi mengajarkan mereka cara yang sehat dan bijak dalam mengakses informasi. Berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan di rumah.
1. Bangun Literasi Digital Sejak Dini
Ajarkan anak untuk mengenali jenis konten yang sehat dan tidak sehat. Diskusikan bersama tentang berita yang mereka baca, ajak mereka berpikir kritis, dan bantu mereka memahami bahwa tidak semua informasi di internet layak dikonsumsi. Literasi digital membantu anak memilah informasi dan menghindari konten yang memicu stres.
Orang tua bisa menggunakan momen membaca berita bersama sebagai sarana edukasi, bukan hanya konsumsi pasif.
2. Tetapkan Batas Waktu Penggunaan Gawai

Buat aturan waktu layar yang jelas dan konsisten. Misalnya, tidak menggunakan gawai satu jam sebelum tidur, atau hanya boleh mengakses media sosial selama 30 menit sehari. Batasan ini membantu anak membentuk kebiasaan sehat dan memberi ruang bagi aktivitas lain yang lebih menenangkan.
Gunakan fitur kontrol orang tua atau aplikasi pengatur waktu untuk membantu anak mematuhi batasan tersebut.
3. Dorong Aktivitas Pengganti yang Positif
Alihkan perhatian anak dari doomscrolling dengan aktivitas yang menyenangkan dan membangun. Misalnya, bermain di luar rumah, membaca buku cerita, menggambar, atau bermain peran. Aktivitas ini tidak hanya mengurangi waktu layar, tetapi juga memperkuat keterampilan sosial dan emosional anak.
Libatkan anak dalam memilih aktivitas agar mereka merasa memiliki kendali dan lebih antusias menjalaninya.
4. Jadilah Teladan dalam Mengelola Informasi

Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika orang tua juga terbiasa doomscrolling, anak akan meniru pola tersebut. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menunjukkan cara sehat dalam mengakses informasi. Misalnya, membaca berita dari sumber terpercaya, membatasi waktu layar, dan berbagi cerita positif.
Teladan ini memberikan pesan bahwa informasi bisa dikonsumsi dengan bijak dan tidak harus menjadi sumber stres.
5. Bangun Komunikasi Terbuka tentang Perasaan Anak
Luangkan waktu untuk berbicara dengan anak tentang apa yang mereka rasakan setelah mengakses media sosial atau berita. Tanyakan, “Apa yang kamu pikirkan setelah melihat video itu?” atau “Bagaimana perasaanmu setelah membaca berita tadi?” Pertanyaan ini membantu anak mengenali dampak emosional dari doomscrolling dan belajar mengelolanya.
Komunikasi yang terbuka juga memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak, sehingga anak merasa aman untuk berbagi.
Kesimpulan
Bahaya doomscrolling untuk mental anak bukanlah hal sepele. Kebiasaan ini dapat memicu kecemasan, menurunkan kesejahteraan emosional, mengganggu tidur dan konsentrasi, serta membentuk pola pikir negatif. Dalam era digital yang serba cepat, anak membutuhkan pendampingan yang bijak agar tidak terjebak dalam arus informasi yang merugikan.
Dengan membangun literasi digital, menetapkan batas waktu layar, mendorong aktivitas positif, dan menjadi teladan dalam mengelola informasi, orang tua dapat membantu anak mengurangi doomscrolling dan menjaga kesehatan mental mereka. Pendekatan ini bukan hanya melindungi anak dari dampak negatif, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan hidup yang sehat dan berdaya.

