Meningkatkan Bonding Anak Ala Rasulullah: Belajar Berlemah Lembut dan Bercanda Pada Anak
Ayah dan Bunda, membangun ikatan emosional yang kuat atau bonding anak adalah kunci keberhasilan pengasuhan. Tidak ada teladan terbaik dalam hal ini selain Rasulullah ﷺ.
Beliau mencontohkan kasih sayang yang luar biasa, salah satunya melalui berlemah lembut dan bercanda dengan cucu dan sahabat anak-anak. Sikap ini menunjukkan bahwa kasih sayang otentik tidak bertentangan dengan otoritas; justru meletakkan dasar kepercayaan yang kokoh.
Artikel ini hadir untuk mengulas bonding anak ala Rasulullah. Kita akan belajar bagaimana menerapkan kelembutan dan canda tawa yang mendidik dalam keseharian, sehingga hubungan Anda dan anak menjadi lebih erat dan penuh rasa aman. Yuk, simak ulasan selengkapnya!
Pentingnya Berlemah Lembut dan Bonding Anak
Mendidik anak bukan hanya soal memberi aturan dan bimbingan, tetapi juga tentang bagaimana orang tua menunjukkan kasih sayang melalui sikap yang lembut dan interaksi yang hangat. Salah satu bentuknya adalah lemah lembut saat bercanda. Cara ini bukan sekadar membuat anak tertawa, tetapi juga menjadi jembatan emosional yang memperkuat hubungan orang tua dan anak. Dalam Islam, Rasulullah ﷺ memberikan teladan luar biasa dalam kelembutan dan cara bercanda yang penuh kasih. Artikel ini akan membahas mengapa kelembutan begitu penting serta bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kelembutan bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan dalam mendidik. Anak yang dibesarkan dengan kelembutan akan tumbuh menjadi pribadi yang penuh kasih, percaya diri, dan mudah berempati pada orang lain.
1. Membentuk Kepribadian yang Positif

Sikap lemah lembut saat bercanda membantu anak memahami bahwa cinta dan kebahagiaan bisa diungkapkan dengan cara yang sopan dan santun. Pola pengasuhan hangat berhubungan langsung dengan perkembangan emosi positif dan kontrol diri anak.
Artinya, anak yang sering berinteraksi dalam suasana penuh kelembutan akan lebih mudah mengelola emosinya saat menghadapi situasi sulit.
2. Menumbuhkan Kedekatan Emosional
Kelembutan membangun ikatan hati antara anak dan orang tua. Rasulullah ﷺ sering menunjukkan kasih sayangnya dengan cara sederhana namun menyentuh. Sebagaimana Rasulullah kerap kali menunjukkan kasih sayang dan lemah lembutnya kepada cucunya, Hasan bin Ali, di hadapan para sahabat.
Tindakan ini mengajarkan bahwa kasih sayang yang ditunjukkan secara fisik dan verbal penting dalam pembentukan kelekatan emosional anak.
3. Menjadi Teladan Akhlak yang Baik

Anak belajar dari apa yang ia lihat. Jika orang tua mencontohkan kelembutan, maka anak akan meniru cara yang sama dalam memperlakukan orang lain. Keteladanan menjadi metode efektif dalam pembentukan karakter anak, karena perilaku orang tua lebih mudah diikuti daripada sekadar nasihat lisan.
Menjadi teladan untuk anak kita tentu membuat anak juga dapat mencontoh sikap baik, karakter dan akhlak terpuji
Cara Memulai Berlemah Lembut dan Bercanda pada Anak
Bercanda bukan sekadar membuat anak tertawa, tetapi juga sarana mengenal karakter, membangun komunikasi, dan mengajarkan nilai-nilai moral. Namun, bercanda juga perlu dilakukan dengan cara yang bijak agar tidak menyinggung atau menimbulkan rasa sakit hati pada anak.
Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S Al Imran ayat 159 bahwa Rasullulah sudah mencontohkan sebagai pribadi yang lemah lembut.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ ١٥٩
Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.
1. Bermain Sebagai Sarana Bercanda

Bermain adalah cara alami bagi anak untuk belajar dan berinteraksi. Melalui bermain, orang tua bisa menyelipkan canda yang mendidik dan menyenangkan. Rasulullah ﷺ sendiri sering bermain dengan anak-anak kecil, bahkan sampai menuruti permainan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa dalam Islam, bermain dan bercanda merupakan bentuk kasih sayang.
Seperti dalam sebuah hadist
Dari Abdullâh bin Hârits Radhiyallâhu ‘anhu berkata :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُصْفُّ عَبْدَ اللَّهِ، وَعُبَيْدَ اللَّهِ، وَكَثِيرًا مِنْ بَنِي الْعَبَّاسِ، ثُمَّ يَقُولُ: مَنْ سَبَقَ إِلَيَّ فَلَهُ كَذَا وَكَذَا، قَالَ: فَيَسْتَبِقُونَ إِلَيْهِ، فَيَقَعُونَ عَلَى ظَهْرِهِ وَصَدْرِهِ، فَيُقَبِّلُهُمْ وَيَلْزَمُهُمْ.
“Rasulullâh ﷺ pernah membariskan Abdullah, Ubaidullah dan banyak lagi anak-anak dari kalangan Bani Abbas, kemudian bersabda: “Barangsiapa paling dahulu sampai kepadaku, maka ia akan mendapatkan ini dan itu.” (HR Bukhari 2889)
Interaksi bermain yang melibatkan humor dan tawa bersama dapat memperkuat hubungan emosional dan meningkatkan kemampuan sosial anak. Jadi, Bunda bisa memulai dengan permainan sederhana seperti tebak gambar, bermain peran, atau permainan fisik ringan yang disertai canda lembut.
2. Bercanda dengan Sopan

Bercanda harus tetap memiliki batas. Hindari canda yang merendahkan, menakuti, atau mempermalukan anak. Rasulullah ﷺ selalu bercanda dengan penuh sopan santun dan kejujuran.
Diriwayatkan dari ‘Umar Radhiyallâhu ‘anhu bahwa beliau berkata : “Saya pernah melihat Hasan dan Husain menaiki punggung Nabi
ﷺ. Lalu saya pun berkata :
نِعْما الافرْسِ اتتَْاكُماا
“Alangkah bagusnya ‘kuda-kudaan’ yang kalian berdua tunggangi.”
Lantas Rasulullâh ﷺ menjawab :
اونِعْما الْفُرْساانِ هُاَا
“Alangkah hebatnya kedua penung- gang kuda ini.” [Ibnu Hibbân di dalam Shahih-nya (12/308
: 5596) dan (15/431 : 6975).
Orang tua dapat menyesuaikan bentuk candaan dengan usia anak. Misalnya, untuk anak usia dini, gunakan canda sederhana yang mengandung unsur edukatif seperti menebak huruf hijaiyah atau mengenalkan hewan ciptaan Allah. Dengan begitu, humor menjadi sarana belajar yang menyenangkan.
3. Bercanda Tanpa Pilih Kasih
Salah satu prinsip penting dalam bercanda adalah adil terhadap semua anak. Jika Bunda memiliki lebih dari satu anak, hindari candaan yang bisa memicu rasa iri atau perbandingan. Keadilan dalam kasih sayang adalah ajaran penting dalam Islam. Rasulullah ﷺ selalu memperlakukan anak-anak dengan setara tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lain.
Rasulullâh ﷺ pernah melewati sejumah anak dari suku Aslam yang sedang bermain panah, lantas Nabi ﷺ bersabda :
ارْمُوا بانِّ إِسْاَاعِيلا فاإِنَّ أاابكَُمْ كاانا ارامِيًا اوأاانً امعا بانِّ فُالَ „ن
“Memanahlah wahai Bani Isma’il, karena bapak-bapak kalian adalah pemanah dan aku berlatih bersama Bani Fulan”
Yaitu beliau berlatih bersama salah satu diantara dua golongan yang sedang berlatih. Hal ini menyebab- kan salah satu golongan berhenti ber- main, maka beliau ﷺ pun memprotes: “Mengapa mereka (tidak terus ber- main?)”.
Mereka menjawab:
قاالُوا اوكايْفا نا.رْمِي اوأانْتا امعا بانِّ فُالَ „ن
“Bagaimana kami bisa terus bermain sedangkan Anda berlatih bersama Bani Fulan?”.
Maka beliau bersabda:
ارْمُوا اوأاانً امعاكُمْ كُلنِكُمْ
“Berlatihlah, aku bersama kalian semuanya”. HR Bukhari (6129) dan Muslim (2150)
Anak yang merasa diperlakukan tidak adil cenderung memiliki hubungan emosional yang renggang dengan orang tua dan saudara kandung. Maka, ketika bercanda, pastikan setiap anak mendapatkan perhatian dan tawa yang sama.
Kesimpulan
Bercanda dan berlemah lembut pada anak bukan hanya aktivitas ringan, tetapi juga bagian dari pendidikan karakter dalam Islam. Dengan bersikap lembut, anak belajar bagaimana memperlakukan orang lain dengan kasih sayang. Dengan bercanda secara sopan, anak belajar bahwa tawa pun bisa menjadi ibadah jika diniatkan untuk menumbuhkan cinta dan kebahagiaan dalam keluarga.
Maka dari itu, peran orang tua untuk terus menebarkan kasih, kelembutan, dan kebahagiaan dalam setiap interaksi dengan anak.
Kelembutan bukan sekadar sifat, tetapi fondasi dari hubungan keluarga yang harmonis. Jadi, yuk Bun, mulai hari ini kita belajar untuk lebih lemah lembut saat bercanda, karena di balik tawa anak yang tulus, tersimpan kehangatan cinta yang mendekatkan kita pada ridha Allah.


