Lembaga Pendidikan Montessori Islam

Dampak Mengabaikan Perasaan Anak yang Perlu Bunda Ketahui, Jangan Sepelekan Hal Ini

mengabaikan perasaan anak
July 30, 2025

Ayah dan Bunda, pernah gak sih tanpa sengaja mengabaikan perasaan anak? Mungkin kita menganggap rengekan mereka hanya tangisan biasa, padahal, setiap perasaan yang anak ungkapkan, sekecil apapun itu, adalah valid dan membutuhkan respons dari kita. 

Dampak mengabaikan perasaan anak ternyata sangat serius dan bisa meninggalkan luka emosional mendalam yang terbawa hingga dewasa. Jangan pernah menyepelekan hal ini, Bunda.

Artikel ini hadir untuk mengupas tuntas dampak mengabaikan perasaan anak yang perlu Ayah dan Bunda ketahui. Kita akan membahas bagaimana penolakan atau validasi yang kurang terhadap emosi anak bisa memicu masalah kepercayaan diri, kesulitan mengelola emosi di kemudian hari, hingga masalah dalam hubungan interpersonal. 

Diharapkan dengan pemahaman ini, Anda dapat menjadi pendengar yang lebih baik, memvalidasi perasaan si kecil, dan membantu mereka tumbuh dengan jiwa yang sehat dan tangguh. Yuk, simak ulasan selengkapnya!

5 Dampak Emosional Jika Perasaan Anak Sering Diabaikan

Perasaan anak adalah bagian penting dari proses tumbuh kembangnya. Ketika emosi mereka tidak dihargai atau diabaikan, dampaknya bisa mempengaruhi cara anak memandang diri sendiri dan dunia di sekitarnya.

Menurut Thompson, individu perlu belajar untuk menguasai emosi dalam dirinya pada saat masa remaja guna untuk membantu individu tersebut dalam mengelola

emosi dalam berbagai kondisi. Gross (1998) menyatakan bahwa regulasi emosi mencakup berbagai strategi yang digunakan oleh individu untuk memberikan pengaruh, melakukan kontrol serta mengelola respons emosional internal maupun eksternal terhadap peristiwa yang terjadi. (Gross, 1998) 

Berikut lima dampak yang perlu diwaspadai agar kita sebagai orang tua lebih peka dalam mendampingi anak secara emosional:

1. Anak Kehilangan Kemampuan Mengekspresikan Emosi 

Ketika anak merasa perasaannya tidak didengar, ia cenderung menekan emosi dan menganggapnya tidak penting. Lama-kelamaan, anak menjadi sulit mengungkapkan perasaan secara terbuka.

Studi dari lainnya menunjukkan bahwa kurangnya validasi emosi sejak dini berkaitan dengan risiko kecemasan dan depresi saat anak tumbuh remaja.

2. Menurunnya Rasa Percaya Diri Anak 

Anak yang sering disepelekan emosinya akan merasa dirinya tidak cukup penting untuk didengarkan. Ia mulai meragukan nilai dirinya dan merasa tidak layak mendapat perhatian.

Hal ini berdampak pada kepercayaan diri anak dalam berbagai aspek kehidupan. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa suaranya tidak berarti, bahkan di lingkungan terdekatnya.

3. Terhambatnya Perkembangan Sosial dan Empati 

Anak belajar memahami emosi orang lain dari bagaimana perasaannya sendiri diterima. Jika ia tidak mendapatkan validasi, ia kesulitan mengenali dan merespons perasaan orang lain.

Akibatnya, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang kurang peduli, cuek, atau bahkan agresif dalam hubungan sosial. Empati tidak berkembang karena tidak pernah dipraktikkan sejak kecil.

4. Meningkatnya Risiko Perilaku Menyimpang 

Emosi yang dipendam terlalu lama bisa berubah menjadi ledakan atau perilaku bermasalah. Anak mungkin mencari perhatian lewat cara negatif, seperti bersikap destruktif atau sulit diatur.

Penelitian dari American Psychological Association menunjukkan bahwa emosi negatif yang tidak tersalurkan sejak dini meningkatkan risiko perilaku antisosial dan gangguan perilaku.

5. Anak Sulit Membangun Hubungan yang Sehat 

Jika sejak kecil anak terbiasa ditolak emosinya, ia akan kesulitan membangun relasi yang sehat saat dewasa. Ia bisa menjadi terlalu menuntut atau justru sangat tertutup dalam hubungan.

Dalam pertemanan, pasangan, atau keluarga, anak mungkin sulit percaya pada orang lain. Ia merasa tidak aman secara emosional karena tidak pernah belajar bagaimana menjalin koneksi yang sehat.

5 Cara Lembut Menjaga Emosi Anak agar Tumbuh Sehat Secara Perasaan

Menjaga emosi anak bukan berarti memenuhi semua keinginannya. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran bahwa perasaan anak itu nyata, berharga, dan layak dihormati.

Berikut lima cara yang bisa Bunda terapkan untuk mendampingi anak secara emosional dengan penuh cinta dan pengertian:

1. Dengarkan Anak Tanpa Menghakimi 

Ketika anak sedang kesal atau menangis, hadirkan diri Bunda sepenuhnya. Dengarkan dengan hati, tanpa tergesa memberi nasihat atau menyalahkan.

Kadang, anak hanya butuh didengarkan agar merasa tenang. Kehadiran yang tulus jauh lebih menenangkan daripada solusi yang terburu-buru.

2. Validasi Perasaan Anak dengan Empati 

Validasi berarti mengakui bahwa emosi anak itu wajar dan bisa diterima. Misalnya, saat anak marah karena mainannya rusak, Bunda bisa berkata, “Kakak marah ya? Itu memang bikin kesal.”

Kalimat sederhana seperti itu membuat anak merasa dimengerti. Ia belajar bahwa perasaannya tidak salah dan layak untuk dihargai.

3. Bantu Anak Mengenali dan Menamai Emosinya 

Anak sering kesulitan menyebutkan apa yang ia rasakan. Emosi seperti kecewa, malu, atau bingung belum tentu langsung ia pahami.

Dengan bantuan Bunda, anak bisa belajar mengenali dan menyebutkan emosinya. Ini akan memudahkan anak mengelola perasaan dengan cara yang sehat.

4. Tunjukkan Contoh Pengelolaan Emosi yang Baik 

Anak belajar dari apa yang ia lihat setiap hari. Jika Bunda bisa menenangkan diri saat marah atau berbicara jujur dengan sopan, anak akan meniru cara tersebut. Sebagaimana Allah juga sudah berfirman dalam Q.S Al Ahzab ayat 21 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ۝٢١

Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.

Teladan yang baik lebih kuat daripada nasihat panjang. Anak akan menyerap cara Bunda mengelola emosi sebagai bekal dalam kehidupannya.

5. Ciptakan Ruang Aman untuk Anak Bercerita 

Luangkan waktu khusus untuk ngobrol santai, misalnya sebelum tidur. Di momen tenang seperti itu, anak biasanya lebih terbuka untuk berbagi cerita.

Jangan gunakan waktu curhat untuk menginterogasi. Jadikan momen tersebut sebagai ruang aman untuk saling berbagi perasaan dengan penuh kehangatan.

Mengabaikan Perasaan Anak Memiliki Dampak yang Buruk Bagi Anak 

Mengabaikan perasaan anak bukanlah hal sepele. Dampaknya bisa berlarut hingga masa remaja dan dewasa. Oleh karena itu, penting bagi setiap orang tua untuk belajar menjadi pendengar yang baik dan hadir secara emosional bagi buah hatinya.

Dengan menjaga perasaan anak sejak dini, kita sedang membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, penuh empati, dan memiliki kemampuan sosial yang sehat. Perjalanan ini memang tidak selalu mudah, namun setiap usaha untuk menjadi orang tua yang lebih peka terhadap emosi anak adalah investasi jangka panjang yang sangat berarti.

Reference 

Syifa Aulia Rahma dkk. 2024. Dampak Pengabaian Orang Tua Terhadap Regulasi Emosi Anak. Universitas Negeri Jakarta; Jurnal Psikologi Volume: 1, Number 4

Leave A Comment:

Your email address will not be published. Required fields are marked *