Lembaga Pendidikan Montessori Islam

Cara Islam Mengajarkan Anak Mengenal Marah dengan Bijak

mengenal marah anak
November 12, 2025

Ayah dan Bunda, mengenal marah adalah emosi manusiawi yang tidak bisa dihilangkan, bahkan dari diri anak sekalipun. Namun, dalam islam tentu ada cara untuk mengajarkan marah dengan bijak dan cara menanganinya dengan tepat. Salah satunya dengan fokus pada pengelolaan emosi tersebut, bukan penekanannya. 

slam memberikan panduan komprehensif, dimulai dari pemahaman bahwa marah yang berlebihan datang dari setan, hingga solusi praktis seperti berwudhu, mengubah posisi, dan berzikir. Tugas kita sebagai orang tua adalah mencontohkan respons islami yang tenang dan mengajari anak bagaimana menyalurkan amarahnya ke dalam tindakan positif atau doa.

Artikel ini hadir untuk memandu Ayah dan Bunda menerapkan ajaran Islam dalam situasi anak tantrum atau frustrasi. Kita akan membahas langkah praktis sesuai sunnah untuk membantu anak mengenali emosinya, menenangkan diri, dan merespons situasi sulit dengan kesabaran. Yuk, simak ulasan selengkapnya!

Bentuk Marah yang Bisa Dirasakan Anak

Setiap anak memiliki emosi yang beragam, salah satunya adalah rasa marah. Dalam Islam, marah bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya, melainkan perlu dikenali dan dikelola dengan cara yang baik. 

Anak perlu diajarkan bagaimana mengenal marah sejak dini agar mereka dapat mengekspresikannya dengan cara yang sehat dan sesuai ajaran Islam. Artikel ini akan membahas tentang jenis-jenis marah yang bisa dirasakan anak serta cara Islam mengajarkan anak mengenal marah dengan bijak berdasarkan teladan Rasulullah ﷺ.

Emosi marah pada anak tidak muncul tanpa sebab. Ia merupakan reaksi alami terhadap situasi tertentu yang membuat anak merasa tidak nyaman atau terancam. Kemampuan anak dalam mengenali emosi termasuk marah sangat penting untuk perkembangan sosial-emosional mereka. Berikut ini beberapa jenis marah yang umum dirasakan oleh anak.

1. Menangis sebagai Ekspresi Ketidaknyamanan

Bagi bayi dan anak usia 0–18 bulan, menangis adalah cara utama untuk menyampaikan kebutuhan atau ketidaknyamanan. Saat mereka lapar, merasa tidak nyaman, atau mengantuk, tangisan menjadi sinyal yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan. 

Karena kemampuan komunikasi mereka belum berkembang, menangis juga bisa menjadi bentuk kemarahan ketika keinginan tidak terpenuhi. Orang tua perlu memahami bahwa tangisan bukan sekadar rewel, tetapi bisa menjadi bentuk ekspresi emosi yang belum bisa diungkapkan dengan kata-kata.

2. Perilaku Destruktif sebagai Respons Emosional

Ketika anak merasa kecewa dengan mengenal marah dengan perasaan mereka inginkan, mereka bisa menunjukkan kemarahan melalui perilaku destruktif. Misalnya, melempar mainan, merusak barang, atau berteriak. Perilaku ini merupakan respons biologis yang muncul karena anak belum mampu mengidentifikasi dan mengatur ledakan emosi yang mereka rasakan. 

Kontrol impuls yang belum berkembang membuat anak cenderung bertindak sebelum berpikir panjang. Dalam situasi ini, mereka mencoba menyampaikan “Aku marah!” melalui tindakan, bukan kata-kata.

3. Tantrum sebagai Ledakan Emosi

Tantrum adalah bentuk kemarahan yang umum terjadi pada anak usia 18 bulan ke atas. Biasanya muncul saat anak tidak ingin berbagi, merasa tidak didengarkan, atau memiliki keinginan yang tidak terpenuhi. 

Meski tantrum adalah bagian normal dari perkembangan emosi, orang tua perlu waspada jika tantrum berlangsung terlalu sering atau terlalu lama. Penting bagi orang tua untuk membantu anak mengenali perasaannya dan belajar mengekspresikannya dengan cara yang lebih sehat.

Cara Mengajarkan Anak Tentang Marah yang Bijak

Islam memiliki panduan lengkap tentang bagaimana mengelola emosi, termasuk marah. Rasulullah ﷺ sendiri dikenal sebagai teladan terbaik dalam menahan amarah, meskipun beliau sering menghadapi berbagai ujian berat. Mengajarkan anak mengenal marah yang bijak dapat dilakukan dengan meneladani akhlak Rasulullah ﷺ berikut ini.

1. Meminta Perlindungan Allah dari Godaan Setan

Ketika Allah menguji kita dengan rasa marah, maka meminta perlindungan Allah dari godaan setan dari emosi. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S Al-A’raf. 

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200)

Orang tua bisa menanamkan nilai ini kepada anak melalui cerita-cerita sirah atau saat anak sedang menghadapi situasi yang membuatnya marah. Misalnya, ketika anak tidak mendapat giliran bermain, orang tua dapat mengingatkan, “Nabi Muhammad juga sabar, walau kadang orang berbuat tidak baik padanya.” Cara sederhana ini membangun koneksi spiritual sekaligus mengajarkan kontrol diri yang positif.

2. Mengajarkan Anak untuk Menenangkan Diri Saat Marah

Rasulullah ﷺ memberikan petunjuk praktis tentang cara mengendalikan amarah. Dalam hadis riwayat Abu Dawud, beliau bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk; jika marahnya belum reda, maka hendaklah berbaring.”

Ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad,

وَ إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad, 1: 239. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan lighairihi)

Ajaran ini bisa diterapkan dalam kehidupan anak sehari-hari. Saat anak terlihat mulai marah, arahkan untuk duduk sejenak, menarik napas dalam, atau meminum air putih. Teknik ini sejalan dengan metode self-regulation dalam psikologi modern, di mana anak diajarkan untuk mengubah keadaan fisiknya agar membantu menenangkan emosinya.

3. Membiasakan Anak Mengambil Wudhu

Dalam islam, kita terbiasa ketika marah untuk mengambil wudhu. Hal ini bisa meredam rasa marah dan emosi yang timbul saat anak marah. Misalnya, anak sedang tantrum maka Anda bisa memvalidasi dan menunggu anak setelah selesai tantrum kemudian mengajak anak untuk berwudhu setelahnya. 

Dari Athiyyah as-Sa’di Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah bersabda:

إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu.” (HR. Abu Daud, no. 4784. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

4. Memberikan Contoh Langsung dari Orang Tua

Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika orang tua mampu menahan marah dan berbicara dengan tenang, anak akan meniru hal yang sama. Rasulullah ﷺ adalah sosok yang sangat berhati-hati dalam berbicara, bahkan ketika beliau menegur kesalahan.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menjadi teladan nyata. Saat merasa marah, katakan kepada anak, “Ibu sedang marah, jadi ibu akan diam sebentar dulu supaya tidak berkata kasar.” Sikap seperti ini mengajarkan anak bahwa marah itu boleh, tetapi harus diungkapkan dengan cara yang baik dan penuh kendali.

Kesimpulan

Mengenal marah adalah bagian dari proses tumbuh kembang emosional anak. Islam tidak melarang anak untuk merasa marah, tetapi mengajarkan bagaimana menyalurkannya dengan cara yang benar dan penuh hikmah. Melalui keteladanan Rasulullah ﷺ, orang tua dapat menumbuhkan kecerdasan emosi anak yang seimbang antara hati, pikiran, dan iman.

Dengan memahami jenis-jenis marah dan mengajarkan cara mengelolanya secara bijak, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang sabar, penyayang, dan mampu menghadapi masalah dengan kepala dingin. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” 

Leave A Comment:

Your email address will not be published. Required fields are marked *