Lembaga Pendidikan Montessori Islam

5 Tips Membiasakan Anak Tidak Menggunjing, Orang Tua Lakukan Hal Ini

anak tidak menggunjing
August 19, 2025

“Ibu, aku sebel banget sama temen aku, dia jelek” Ayah dan Bunda, pernahkah Anda mendengar si kecil berbicara hal-hal yang kurang baik tentang orang lain, seperti mengomentari penampilan atau perilaku temannya. Kebiasaan ini, yang sering disebut menggunjing dan anak perlu segera diarahkan agar tidak menggunjing

Membiasakan anak untuk tidak menggunjing adalah bagian penting dari pendidikan karakter. Kita tidak hanya mengajari mereka untuk menjaga lisan, tetapi juga menumbuhkan empati dan rasa hormat terhadap orang lain. Lantas, bagaimana cara efektif untuk menanamkan kebiasaan baik ini sejak dini?

Artikel ini hadir untuk membantu Ayah dan Bunda dengan 5 tips membiasakan anak tidak menggunjing. Kita akan mengupas langkah-langkah praktis yang bisa Anda lakukan, mulai dari menjadi teladan, mengajari empati, hingga cara merespons komentar negatif anak. Diharapkan dengan informasi ini, Anda dapat membimbing si kecil untuk menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Yuk, simak ulasan selengkapnya!

Menjaga Karakter dan Kesehatan Emosional Anak

Menggunjing atau membicarakan orang lain secara negatif di belakang mereka mungkin terlihat sebagai perilaku ringan, namun dampaknya terhadap perkembangan anak sangat serius.

Kebiasaan ini dapat merusak karakter, hubungan sosial, dan keseimbangan emosional anak jika tidak ditangani sejak dini. Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk pola komunikasi anak agar lebih sehat, empatik, dan sesuai dengan nilai moral yang dianut keluarga.

Berikut adalah lima konsekuensi buruk yang dapat muncul jika anak terbiasa menggunjing, beserta penjelasan yang dapat membantu orang tua memahami dan mencegah perilaku tersebut.

1. Merusak Kepercayaan Diri Anak Lain

Ketika seorang anak menjadi sasaran gunjingan, dampaknya bisa sangat menyakitkan bagi harga diri mereka. Anak yang merasa dibicarakan secara negatif oleh teman atau saudara akan mengalami penurunan rasa percaya diri, merasa malu, dan bahkan menarik diri dari lingkungan sosial. Perasaan ini dapat menghambat anak dalam berinteraksi, belajar, dan membangun relasi yang sehat.

Orang tua perlu menyadari bahwa komentar negatif yang tersebar melalui gunjingan bisa meninggalkan luka emosional yang dalam. Oleh karena itu, penting untuk mengajarkan anak tentang dampak kata-kata terhadap perasaan orang lain. 

Mendorong anak untuk berbicara langsung dengan cara yang sopan dan terbuka jauh lebih sehat daripada membicarakan orang lain di belakang. Dengan pendekatan ini, anak belajar menghargai orang lain dan menjaga integritas dalam pergaulan.

2. Memicu Konflik dan Perpecahan dalam Pertemanan

Kebiasaan menggunjing seringkali menjadi pemicu utama konflik antar teman. Anak yang terbiasa membicarakan orang lain secara negatif akan kehilangan kepercayaan dari lingkungan sosialnya. 

Teman-teman bisa merasa tidak aman, takut menjadi sasaran berikutnya, dan akhirnya memilih menjauh. Hal ini dapat menyebabkan perpecahan dalam kelompok bermain atau belajar.

Orang tua dapat membantu anak memahami bahwa menjaga kepercayaan adalah fondasi penting dalam hubungan sosial. Ketika anak belajar untuk berbicara jujur, menyelesaikan masalah secara langsung, dan menjaga rahasia orang lain, mereka akan lebih dihargai oleh teman-temannya. 

Membangun budaya komunikasi yang terbuka dan saling menghormati di rumah akan memperkuat kemampuan anak dalam menjaga hubungan sosial yang sehat.

3. Membentuk Kebiasaan Komunikasi Negatif

Jika kebiasaan menggunjing tidak dikendalikan sejak dini, anak berisiko membawa pola komunikasi negatif ini hingga dewasa. Mereka akan terbiasa menyampaikan pendapat dengan cara yang merendahkan orang lain, sulit membangun hubungan yang saling percaya, dan cenderung terjebak dalam konflik yang tidak produktif. Pola ini dapat menghambat keberhasilan anak dalam lingkungan akademik maupun profesional.

Orang tua perlu menjadi teladan dalam berkomunikasi. Hindari membicarakan orang lain secara negatif di depan anak, dan ajak mereka berdiskusi tentang cara menyampaikan pendapat dengan sopan dan konstruktif. Dengan membiasakan anak berbicara secara positif dan jujur, mereka akan lebih mudah membentuk hubungan sosial yang sehat dan berkelanjutan.

4. Menghambat Empati dan Kecerdasan Emosional

Anak yang terbiasa menggunjing cenderung kurang terlatih dalam memahami perasaan orang lain. Mereka lebih fokus pada penilaian dan kritik daripada mencoba melihat situasi dari sudut pandang orang lain. Padahal, empati adalah komponen utama dalam kecerdasan emosional yang sangat berpengaruh terhadap kesuksesan anak di masa depan, baik secara akademik maupun sosial.

Orang tua dapat melatih empati anak dengan mengajak mereka berdiskusi tentang perasaan orang lain, membaca cerita yang menggambarkan konflik emosional, atau bermain peran untuk memahami berbagai perspektif. Ketika anak belajar merasakan apa yang dirasakan orang lain, mereka akan lebih berhati-hati dalam berbicara dan lebih mampu membangun hubungan yang penuh pengertian.

5. Bertentangan dengan Nilai Islam dan Moral

Dalam ajaran Islam maupun norma sosial yang berlaku, menggunjing termasuk perbuatan yang dilarang karena merugikan diri sendiri dan orang lain. Anak yang terbiasa menggunjing menunjukkan bahwa mereka belum terbiasa menanamkan nilai moral yang baik dalam kehidupan sehari-hari. 

Kebiasaan ini bertentangan dengan prinsip kejujuran, kasih sayang, dan tanggung jawab sosial yang diajarkan dalam keluarga dan agama.

Orang tua memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai moral sejak dini, termasuk tentang pentingnya menjaga lisan dan menghormati orang lain. Dengan membiasakan anak untuk berbicara baik, menyelesaikan masalah secara langsung, dan menjaga rahasia orang lain, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang berintegritas dan sesuai dengan nilai-nilai yang dianut keluarga.

5 Strategi Mencegah Anak Tidak Menggunjing

Menghindarkan anak dari kebiasaan menggunjing bukan hanya soal melarang mereka berbicara buruk tentang orang lain, tetapi juga tentang membentuk karakter, empati, dan pola komunikasi yang sehat. 

Orang tua memiliki peran penting dalam membimbing anak agar terbiasa menyampaikan pendapat dengan jujur, sopan, dan penuh rasa hormat. Berikut lima pendekatan yang dapat diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

1. Menerima Cerita Anak dengan Tenang dan Penuh Perhatian

Ketika anak mulai bercerita tentang orang lain, langkah pertama yang bijak adalah mendengarkan dengan tenang. Jangan langsung memotong atau menghakimi, karena anak mungkin belum memahami bahwa yang mereka lakukan termasuk dalam perilaku menggunjing. Dengan menerima cerita terlebih dahulu, orang tua memberi ruang bagi anak untuk merasa didengarkan dan dihargai.

Setelah anak selesai bercerita, barulah orang tua dapat mengarahkan pembicaraan dengan lembut. Misalnya, dengan bertanya, “Menurutmu, apakah kita perlu membicarakan ini atau lebih baik kita bantu dia?” Sikap terbuka ini membantu anak merasa aman untuk berbicara, sekaligus memberi kesempatan bagi orang tua untuk membimbing mereka memahami batasan dalam berkomunikasi.

2. Mengenalkan Dalil atau Ayat Al-Qur’an tentang Larangan Ghibah

Setelah anak mulai memahami bahwa membicarakan keburukan orang lain bukanlah hal yang baik, orang tua dapat memperkuat pemahaman tersebut dengan mengenalkan dalil atau ayat Al-Qur’an yang relevan. 

Misalnya, QS. Al-Hujurat ayat 12 yang menyebutkan bahwa menggunjing sama buruknya dengan memakan daging saudara sendiri. Penjelasan ini dapat disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan sesuai usia anak.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ ۝١٢

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. ( Q.S Al Hujurat: 12)

Mengaitkan perilaku dengan nilai agama akan membantu anak memahami bahwa menjaga lisan adalah bagian dari ibadah dan akhlak mulia. Orang tua juga dapat mengajak anak berdiskusi tentang makna ayat tersebut dan bagaimana cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan spiritual yang menyentuh hati, anak akan lebih terdorong untuk menjaga ucapan mereka dengan kesadaran yang lebih dalam.

3. Menghentikan Cerita dengan Cara yang Lembut dan Terarah

Jika anak mulai menggunjing, orang tua perlu menghentikan pembicaraan tersebut dengan cara yang tidak menyakiti perasaan anak. Hindari reaksi keras seperti memarahi atau mengabaikan, karena hal itu bisa membuat anak merasa ditolak. Sebaliknya, arahkan dengan kalimat yang penuh pengertian, seperti “Kita tidak tahu seluruh cerita tentang dia, lebih baik kita doakan saja agar semuanya membaik.”

Menghentikan cerita dengan cara yang bijak akan mengajarkan anak bahwa tidak semua hal perlu dibicarakan, apalagi jika itu menyangkut kekurangan orang lain. Orang tua juga bisa mengalihkan pembicaraan ke hal yang lebih positif, seperti mencari solusi atau membahas kebaikan orang tersebut. Dengan cara ini, anak belajar bahwa menghentikan gunjingan bukan berarti menolak cerita, tetapi memilih untuk menjaga lisan dan hati.

4. Menjadi Teladan dalam Menjaga Lisan dan Sikap

Anak belajar paling efektif melalui contoh nyata yang mereka lihat setiap hari. Oleh karena itu, orang tua perlu menjadi teladan dalam menjaga lisan, terutama saat berbicara tentang orang lain. Hindari menggunjing di depan anak, dan biasakan berbicara dengan cara yang jujur, sopan, dan penuh empati. Ketika anak melihat bahwa orang tuanya konsisten dalam menjaga ucapan, mereka akan meniru sikap tersebut secara alami.

Selain menjaga lisan, orang tua juga dapat menunjukkan bagaimana menyelesaikan masalah secara langsung dan terbuka, tanpa perlu membicarakan di belakang. Sikap ini akan membentuk budaya komunikasi yang sehat di rumah, di mana anak merasa aman untuk menyampaikan pendapat dan belajar menyelesaikan konflik dengan cara yang dewasa. 

Keteladanan yang konsisten adalah fondasi utama dalam membentuk karakter anak yang kuat dan berakhlak baik.

Hindari Kebiasaan Menggunjing Anak Sedari Kecil 

Membiasakan anak tidak menggunjing adalah proses panjang yang membutuhkan teladan dan konsistensi dari orang tua. Anak bukan hanya belajar dari nasihat, tetapi juga dari perilaku nyata orang-orang terdekatnya. 

Jika di rumah mereka terbiasa mendengar komunikasi yang positif, penuh empati, dan sesuai dengan nilai agama, maka anak akan tumbuh dengan kebiasaan berbicara yang santun.

Dengan demikian, mengajarkan anak agar tidak menggunjing bukan sekadar mencegah mereka dari kebiasaan buruk, tetapi juga membentuk pribadi yang berakhlak baik, penuh empati, dan mampu menjaga hubungan sosial yang sehat di masa depan.

Reference 

Hartono. “Analisis Larangan Ghibah dalam Surah Al-Hujurat Ayat 12 Pendekatan Fenomenologi Sosial.” As-Syifa: Journal of Islamic Studies and History, Vol. 3, No. 1, Januari 2024. Sekolah Tinggi Ilmu al-Qur’an Wali Songo Situbondo.

Leave A Comment:

Your email address will not be published. Required fields are marked *